BERITA TERKINI
Konflik Iran–Israel dan AS Dinilai Berisiko Mengguncang Ekonomi Global Lewat Energi dan Rantai Pasok

Konflik Iran–Israel dan AS Dinilai Berisiko Mengguncang Ekonomi Global Lewat Energi dan Rantai Pasok

Konflik yang melibatkan Iran dinilai tidak bisa dipahami hanya sebagai benturan militer. Dari sudut pandang ekonomi internasional, eskalasi di kawasan tersebut juga mencerminkan perebutan kendali atas ruang strategis ekonomi global yang berkaitan dengan energi, jalur pelayaran, dan keamanan rantai pasok dunia.

Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Probo Darono Yakti, menjelaskan posisi Iran di kawasan Teluk menjadikannya aktor penting dalam sistem ekonomi global. Kawasan itu berhubungan langsung dengan distribusi energi dunia serta jalur perdagangan internasional.

Menurut Probo, setiap peningkatan ketegangan di Iran hampir selalu berdampak pada ekonomi politik global. Ia menilai negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki daya tawar ekonomi yang lebih besar.

Salah satu titik strategis yang disebut dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara kira-kira 20% konsumsi minyak global—melewati selat tersebut. Selain itu, hampir seperlima perdagangan LNG dunia juga melalui jalur yang sama. Karena itu, Probo menilai konflik yang melibatkan Iran memiliki bobot sistemik dan tidak semata-mata bersifat regional.

Eskalasi konflik juga disebut berdampak langsung pada pasar energi global. Probo menekankan bahwa pasar energi tidak hanya dipengaruhi pasokan riil, tetapi juga persepsi risiko. Ia menyebut harga minyak global dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan signifikan seiring gangguan tanker, perlambatan produksi, serta kekhawatiran terhadap kemungkinan pembatasan akses Selat Hormuz.

Dampak kenaikan harga energi tersebut, menurutnya, dapat menjalar ke berbagai sektor seperti biaya listrik, industri pelayaran, hingga harga pangan. Kondisi ini juga dinilai memengaruhi aktivitas industri di Asia karena pasokan energi dan bahan baku petrokimia ikut terganggu.

Bagi Indonesia, situasi ini memunculkan tantangan tersendiri. Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia disebut rentan terhadap kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan global. Probo menilai gangguan jalur energi tidak hanya berdampak pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya.

Probo menambahkan, konflik geopolitik semacam ini berpotensi memicu pergeseran di pasar keuangan global. Investor cenderung memindahkan modal ke aset yang dianggap lebih aman, sementara lonjakan harga energi dapat memicu inflasi impor dan meningkatkan ketidakpastian investasi.

Dalam jangka menengah, ia menilai konflik ini juga dapat mengubah peta kerja sama energi global. Negara-negara konsumen besar kemungkinan mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kontrak jangka panjang dengan pemasok alternatif.

Menurut Probo, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan karena ruang fiskal yang terbatas dan ketergantungan energi yang tinggi. Karena itu, ia mendorong Indonesia memperkuat strategi diversifikasi energi, menjaga stabilitas ekonomi domestik, serta mempercepat transisi energi.

Ia menekankan bahwa keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. Karena itu, respons terhadap konflik seperti ini perlu dilihat tidak hanya dari sisi militer atau diplomasi, tetapi juga dari perspektif geoekonomi.