BERITA TERKINI
Konflik Iran–Israel Tekan Ekonomi dan Picu Gejolak Harga Energi Global

Konflik Iran–Israel Tekan Ekonomi dan Picu Gejolak Harga Energi Global

Konflik yang meluas antara Iran, Israel, dan sekutu tidak hanya berdampak pada situasi militer, tetapi juga memunculkan tekanan ekonomi yang kian nyata. Sejumlah indikator menunjukkan kerugian ekonomi langsung, disertai risiko jangka panjang berupa gangguan produksi, melemahnya investasi, dan meningkatnya inflasi akibat lonjakan harga energi.

Salah satu dampak paling cepat terlihat terjadi di Israel. Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan Israel, pembatasan aktivitas ekonomi selama status darurat membuat perekonomian kehilangan sekitar 9,4 miliar shekel per minggu, atau setara sekitar USD 3 miliar. Kerugian tersebut dikaitkan dengan gangguan sektor bisnis, pembatasan mobilitas, serta penurunan konsumsi domestik.

Di sisi lain, Iran menghadapi kemerosotan besar pada pendapatan energi. Gangguan ekspor minyak dan gas—yang menjadi tulang punggung ekonomi—turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Brent crude dilaporkan naik lebih dari 20–28% dalam beberapa hari, menjadi salah satu lonjakan mingguan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan juga muncul dari risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang membawa sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Ketidakpastian di jalur ini memperkuat tekanan terhadap harga energi dan mendorong kekhawatiran inflasi secara global.

Dalam enam hari pertama konflik, harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 18%, dari USD 72 menjadi USD 84 per barel. Kenaikan ini menekan sektor energi dan memicu dampak berantai pada biaya produksi, termasuk di sektor manufaktur, transportasi, dan logistik. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keputusan investasi industri di berbagai negara.

Selain energi, sektor pariwisata regional turut terpukul. Gangguan penerbangan, penutupan bandara, dan kekhawatiran keamanan menunda aktivitas ekonomi, memperlambat distribusi, serta menimbulkan kerugian bagi negara-negara yang bergantung pada pendapatan dari sektor ini. Hambatan pada perdagangan dan logistik juga muncul seiring terganggunya pengiriman barang dan transportasi.

Kerugian ekonomi tidak berhenti pada dampak jangka pendek. Analisis lembaga think tank Chatham House menyebut konflik berkepanjangan dapat menekan output nasional, produktivitas, investasi, serta rantai pasokan. Israel disebut pernah mengalami kontraksi ekonomi 1% dalam satu kuartal akibat gangguan sosial dan militer. Sementara itu, Iran yang sangat bergantung pada ekspor minyak diperkirakan berisiko mengalami penurunan GDP lebih dari 10% jika ketegangan berlanjut.

Di tingkat global, lonjakan inflasi energi, volatilitas pasar modal, dan pelemahan mata uang di sejumlah negara memperlihatkan bahwa dampak konflik melampaui kawasan. Gangguan pasokan melalui titik strategis seperti Selat Hormuz menjadi contoh bagaimana konflik regional dapat memicu guncangan ekonomi yang lebih luas.

Perkembangan ini menunjukkan perang modern tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menggerus sendi ekonomi nasional dan menimbulkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi global. Kerugian bernilai miliaran dolar, lonjakan harga energi, serta risiko terhadap produksi dan pertumbuhan jangka panjang menjadi rangkaian dampak yang terus dipantau seiring dinamika konflik.