Menjelang Idulfitri, topik pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) mulai ramai diperbincangkan, bahkan sejak pertengahan Ramadan. Pada 2026, pemerintah memastikan THR dibayarkan 100% dan mulai cair sejak akhir Februari. Namun, di tengah kebutuhan rumah tangga yang datang beruntun—mulai dari persiapan lebaran, rencana mudik, hingga biaya sekolah anak—dana tambahan ini berisiko cepat habis bila tidak dikelola dengan rencana yang jelas.
Pengelolaan THR menjadi semakin penting karena kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Dalam situasi seperti ini, banyak keluarga memilih menahan pengeluaran konsumtif dan memperkuat tabungan, terutama untuk menghadapi kebutuhan mendesak maupun biaya rutin yang meningkat.
Tren menabung menguat di 2025–2026
Data 2025–2026 menunjukkan pergeseran perilaku keuangan masyarakat. Berdasarkan riset pasar yang disebutkan dalam laporan ini, sekitar 58% warga Indonesia cenderung mengalokasikan THR untuk menabung dan berinvestasi dibandingkan berbelanja konsumtif. Ketidakpastian ekonomi global mendorong keluarga memprioritaskan dana darurat dan tujuan keuangan yang lebih stabil.
Dalam praktiknya, langkah awal yang dilakukan adalah menyisihkan pengeluaran wajib terlebih dahulu, seperti zakat fitrah dan zakat mal. Setelah itu, sebagian THR dialokasikan untuk tabungan atau emas sekitar 20–30% sebagai upaya membangun aset jangka panjang.
Rumus 3-2-1 untuk kebutuhan anak
Bagi keluarga dengan tiga anak, kebutuhan lebaran kerap bertambah karena anak cepat tumbuh dan kebutuhan sekolah terus berjalan. Untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali, diterapkan pembagian sederhana dengan rumus 3-2-1.
Rinciannya, tiga bagian dialokasikan untuk kebutuhan esensial lebaran seperti sepatu yang sudah sempit atau pakaian yang sudah kekecilan. Dua bagian dimasukkan ke tabungan pendidikan anak. Satu bagian disiapkan untuk “uang tempel” atau salam tempel yang berkaitan dengan kegiatan silaturahmi.
Pola ini juga digunakan untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa hari raya tidak semata tentang konsumsi, tetapi juga tentang belajar berbagi, menghargai nilai uang, dan tidak berlebihan.
Anggaran mudik dan biaya sosial dibuat terukur
Selain kebutuhan lebaran, mudik menjadi pos pengeluaran besar yang dapat menyerap THR dalam waktu singkat. Karena itu, anggaran transportasi dan akomodasi perlu dibuat ketat, termasuk menetapkan batas maksimal untuk bensin, tol, dan konsumsi.
Untuk kebutuhan buah tangan, strategi yang dilakukan adalah mencari promo sejak jauh hari. Dalam pengalaman yang dituliskan, relasi sebagai konten kreator juga dimanfaatkan untuk menekan biaya tanpa mengurangi tujuan menjaga hubungan baik dengan keluarga di kampung.
Ruang untuk apresiasi diri, tetap dengan batas
THR juga dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, asalkan direncanakan sejak awal. Sebagian kecil dana, sekitar 5–10%, disisihkan untuk “self-reward” yang terukur, misalnya membeli buku pengembangan diri atau perawatan sederhana. Prinsipnya, pengeluaran ini dianggarkan di awal agar tidak mengambil dari pos kebutuhan lain.
Menata THR agar tetap aman hingga bulan berikutnya
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan banyaknya kebutuhan musiman, pengelolaan THR yang terencana membantu keluarga menjaga arus kas tetap sehat. Memprioritaskan kewajiban, menabung, membagi kebutuhan anak secara proporsional, mengunci anggaran mudik, serta memberi ruang apresiasi diri yang wajar menjadi langkah yang dapat membuat THR lebih bermanfaat dan tidak cepat habis.

