BERITA TERKINI
OJK: Aset Perbankan Sultra Tumbuh 6,5 Persen, Investor Pasar Modal Naik 44,96 Persen

OJK: Aset Perbankan Sultra Tumbuh 6,5 Persen, Investor Pasar Modal Naik 44,96 Persen

Kinerja industri jasa keuangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan tren positif pada awal 2026. Pertumbuhan aset perbankan, penyaluran kredit, serta peningkatan jumlah investor pasar modal menjadi indikator menguatnya sektor keuangan di wilayah tersebut.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan sektor perbankan di Sultra masih berada dalam kondisi sehat dan terus berkembang secara ekspansif. Ia menyampaikan, aset perbankan tumbuh 6,5 persen secara tahunan, didorong kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 5,9 persen serta penyaluran kredit yang meningkat 5,1 persen.

Menurut data OJK, total aset perbankan di Sultra mencapai sekitar Rp61,43 triliun pada Januari 2026. Pada periode yang sama, DPK tercatat Rp33,64 triliun, sedangkan total kredit yang disalurkan mencapai Rp42,59 triliun.

Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada pada level 2,10 persen. Angka tersebut disebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.

Penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dilaporkan terus meningkat. Hingga Januari 2026, kredit UMKM tercatat mencapai Rp15,27 triliun atau sekitar 35,29 persen dari total kredit perbankan di Sultra.

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Sultra turut mengalami kenaikan. OJK mencatat Single Investor Identification (SID) mencapai 123.794 investor pada Desember 2025, naik sekitar 44,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Reksa dana masih menjadi instrumen yang paling banyak dipilih masyarakat, dengan pangsa sekitar 70,13 persen dari total investor. Sementara itu, instrumen saham mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 60,39 persen secara tahunan.

Nilai transaksi saham di Sultra juga meningkat tajam. Pada Desember 2025, nilai transaksi saham tercatat Rp608,11 miliar atau melonjak 155,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bismi menyatakan peningkatan aktivitas investasi tersebut tidak terlepas dari membaiknya literasi keuangan masyarakat. OJK, kata dia, terus mendorong edukasi agar masyarakat semakin memahami produk keuangan dan terhindar dari berbagai modus penipuan investasi.

Selain edukasi, OJK Sultra juga memperkuat perlindungan konsumen melalui layanan pengaduan serta sosialisasi terkait investasi ilegal, pinjaman online ilegal, dan penipuan digital yang marak terjadi. Melalui penguatan literasi dan inklusi keuangan, OJK berharap masyarakat Sulawesi Tenggara dapat mengelola keuangan secara lebih bijak serta memanfaatkan layanan jasa keuangan secara aman dan produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.