BERITA TERKINI
Pemerintah Siapkan Enam Langkah Antisipasi Dampak Konflik AS-Israel-Iran terhadap Pangan, Energi, dan Ekspor

Pemerintah Siapkan Enam Langkah Antisipasi Dampak Konflik AS-Israel-Iran terhadap Pangan, Energi, dan Ekspor

Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global yang berpotensi muncul akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Fokus utama diarahkan pada stabilitas pasokan kebutuhan pokok dan energi, agar dampak ketidakpastian geopolitik tidak mengganggu perekonomian domestik.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Cadangan pangan strategis, termasuk beras, serta pasokan bahan bakar minyak (BBM) disebut berada dalam kondisi aman dan mencukupi untuk kebutuhan nasional hingga 21 hari ke depan. Pemerintah juga mengakui adanya potensi kenaikan harga komoditas global, namun menyatakan akan berupaya meminimalkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Di sisi perdagangan, pemerintah membuka komunikasi dengan pelaku usaha, khususnya eksportir, untuk memetakan risiko gangguan usaha sekaligus peluang pasar baru yang mungkin muncul akibat perubahan dinamika perdagangan global.

Berikut enam langkah dan poin mitigasi yang disiapkan pemerintah:

1. Antisipasi gangguan rantai pasok dan dialog dengan eksportir
Menteri Perdagangan Budi Santoso menggelar pertemuan dengan asosiasi pengusaha dan eksportir untuk mengidentifikasi komoditas yang berpotensi menghadapi hambatan distribusi. Pembahasan diarahkan pada produk yang rute perdagangannya melalui atau beririsan dengan Selat Hormuz, serta kemungkinan gangguan pasokan bahan baku industri yang penting bagi eksportir, terutama yang bergantung pada impor.

2. Diversifikasi pasar ekspor
Pemerintah memetakan pengalihan tujuan ekspor ke negara-negara yang dinilai relatif minim terdampak konflik. Menurut Budi, konflik yang belum mereda berpotensi memengaruhi neraca perdagangan, terutama kinerja ekspor ke pasar utama seperti Eropa dan Timur Tengah. Asia Tenggara dan Afrika disebut telah dipetakan sebagai pasar potensial.

3. Memperhatikan peran Selat Hormuz bagi jalur perdagangan
Pemerintah menyoroti besarnya nilai ekspor Indonesia ke negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran Selat Hormuz. Dalam data yang disampaikan, nilai ekspor Indonesia ke Mesir tercatat USD1,527 juta dan ke Rusia USD1,740 juta. Gangguan di jalur ini dinilai berpotensi memengaruhi volume perdagangan.

4. Pengamanan ketahanan energi nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah bergerak cepat memitigasi dampak ketegangan militer AS-Iran terhadap stabilitas energi global. Pemerintah menyebut telah mengamankan sumber energi alternatif di luar kawasan Timur Tengah untuk menjaga ketahanan energi domestik.

5. Optimalisasi kerja sama dengan AS melalui ART
Pengamanan energi juga dilakukan melalui kerja sama perdagangan terbaru dengan AS lewat Agreement of Reciprocal Trade (ART). Nota kesepahaman (MoU) ini disebut memperkuat suplai energi Indonesia dari AS sehingga mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.

6. Pemanfaatan aset strategis Pertamina di Amerika Latin
Selain kerja sama dengan AS, PT Pertamina (Persero) disebut memiliki akses strategis di Amerika Latin, khususnya di Venezuela. Optimalisasi aset tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber energi agar pasokan tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik global.

Melalui rangkaian langkah tersebut, pemerintah menyatakan berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, memastikan ketersediaan pangan dan energi, serta memetakan peluang pasar baru di tengah ketidakpastian global.