BERITA TERKINI
Pemerintah Siapkan Hilirisasi Migas, Gas Diminta Utamakan Pasokan untuk Industri Dalam Negeri

Pemerintah Siapkan Hilirisasi Migas, Gas Diminta Utamakan Pasokan untuk Industri Dalam Negeri

Pemerintah berencana melanjutkan program hilirisasi ke sektor minyak dan gas (migas) setelah sebelumnya dijalankan di sektor mineral dan batu bara (minerba). Rencana tersebut disampaikan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia di hadapan investor migas dalam acara 4th International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023, Rabu (20/9).

Dalam rencana hilirisasi migas, gas menjadi salah satu komoditas yang akan diprioritaskan. Pemerintah meminta para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lebih aktif memasok kebutuhan gas bagi industri di dalam negeri sebelum menyalurkannya ke pasar ekspor. Penyaluran gas untuk kebutuhan domestik diminta menjadi prioritas, dengan catatan industri penyerap gas juga telah siap.

“Tanya dulu pada teman-teman industri domestik, prioritaskan mereka, agar ada nilai tambah di dalam negeri,” ujar Bahlil.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, hingga 2021 sebanyak 64,3% produksi gas Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, dengan total penyaluran 5.734,43 BBTUD. Dari total tersebut, 27,45% dialokasikan untuk industri, ekspor dalam bentuk LNG 22,18%, pupuk 12,08%, ekspor 13,14%, dan listrik 11,90%.

Selain itu, gas juga dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik LNG dan LPG masing-masing sebesar 8,56% dan 1,56%. Sisa konsumsi digunakan dalam porsi kecil untuk gas kota serta bahan bakar transportasi.

Bahlil menyampaikan, arah pengembangan industri migas ke depan tidak hanya terkait bahan bakar transportasi. Gas dinilai memiliki peran penting dalam pengembangan industri petrokimia. Ia mencontohkan dua proyek hilirisasi migas di Indonesia timur, yakni di blok Kasuri dan Berau.

“Ada pupuk, blue amonia di Fakfak dan Bintuni. Fakfak ada Genting Oil dan Bintuni ada BP,” kata Bahlil.

Menurut Bahlil, hilirisasi yang mendorong pemanfaatan gas di dalam negeri juga berpotensi menggerakkan pertumbuhan usaha pengusaha domestik serta memperkuat peran industri hulu migas bagi perekonomian daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil meminta agar pengusaha daerah dilibatkan lebih besar dan didorong berkolaborasi dalam kegiatan bisnis sektor migas. Ia juga menekankan pentingnya pembinaan pelaku usaha daerah agar masyarakat setempat merasakan manfaat dari keberadaan cadangan migas di wilayahnya.

“Kita harus kolaborasi dengan pengusaha nasional, teman-teman di daerah, UMKM daerah. Jangan lagi kontraktor dibawa lagi semua dari Jakarta. Bina teman-teman daerah yang memenuhi syarat. Jangan jadi penonton. Ini dasarnya permen investasi sudah dibuat jadikan teman-teman daerah objek dan subjek. Kalau sumur migas di Sulawesi pakai orang Sulawesi,” ujarnya.

Bahlil menambahkan, industri hulu migas akan menjadi prioritas untuk dijaga iklim investasinya karena kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Untuk investasi, kita tetap dorong butuh kontribusi, postur di pertumbuhan ekonomi didorong sampai 35 persen. Konsumsi kita tekan sehingga keseimbangan pertumbuhan ekonomi berkualitas,” kata Bahlil.