Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menambah ketidakpastian geopolitik global. Lembaga riset Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai ketegangan di Timur Tengah berpotensi berlangsung cukup lama dan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, mengatakan eskalasi konflik berisiko memberi tekanan baru terhadap perekonomian dunia, terutama melalui kenaikan harga energi. Ia menyebut, pada awal tahun prospek ekonomi Indonesia masih relatif positif dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5,0%–5,3%, namun konflik AS-Iran mulai mengubah proyeksi tersebut.
Menurut Gundy, harga minyak global yang kembali melonjak di atas US$100 per barel meningkatkan risiko bagi negara pengimpor energi, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan minyak. Kenaikan harga energi dinilai dapat meningkatkan biaya produksi, menekan daya beli masyarakat, serta memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.
Gundy memperingatkan, apabila lonjakan harga minyak bertahan dalam waktu lama, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia turun di bawah 5% akan semakin besar. Ia juga mendorong pemerintah untuk mengubah pendekatan kebijakan dari kondisi normal menuju penanganan yang lebih bersifat krisis.
Kerentanan Indonesia terhadap lonjakan harga minyak global, lanjut Gundy, juga terlihat dari sisi fiskal. Cadangan minyak strategis Indonesia saat ini diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 23–26 hari, jauh di bawah standar yang direkomendasikan International Energy Agency (IEA) sebesar 90 hari impor bersih.
Selain itu, kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan simulasi pemerintah, jika harga minyak rata-rata mencapai sekitar US$92 per barel, defisit anggaran 2026 berpotensi melebar hingga sekitar 3,6%–3,7% terhadap produk domestik bruto (PDB), melampaui batas defisit fiskal 3%.
“Kondisi ini menuntut pengelolaan fiskal yang lebih hati-hati, terutama jika harga energi global tetap tinggi,” kata Gundy.
Di sisi lain, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak global hampir pasti akan memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

