JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi memicu kenaikan harga energi dan pangan, pengelolaan tunjangan hari raya (THR) secara bijak dinilai semakin penting. Masyarakat pun diimbau lebih berhati-hati agar THR tidak habis tanpa perencanaan.
Perencana keuangan Rista Zwestika, CFP WMI, menyarankan prinsip sederhana dalam mengelola THR, yakni 3P: Prioritas, Proteksi, dan Perayaan. “Saya biasa menyarankan masyarakat memakai prinsip sederhana yaitu THR sama dengan 3P: Prioritas, Proteksi, dan Perayaan,” kata Rista, yang juga merupakan duta literasi keuangan syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Prioritaskan kebutuhan utama
Rista menjelaskan, langkah pertama adalah memprioritaskan kebutuhan penting yang berkaitan dengan perayaan Idul Fitri. THR dapat dialokasikan untuk membayar zakat, biaya mudik, serta memenuhi kebutuhan keluarga selama Lebaran. Dengan menetapkan prioritas, pengeluaran dinilai lebih terkontrol dan tidak berlebihan.
Sisihkan untuk proteksi keuangan
Selain kebutuhan utama, sebagian THR disarankan dialokasikan untuk dana darurat sebagai bentuk proteksi keuangan. Rista menyebut dana darurat idealnya setara dengan 6 hingga 12 bulan pengeluaran. Jika dana darurat belum mencukupi, sebagian THR dapat digunakan untuk memperkuat cadangan keuangan.
“Di masa ketidakpastian, cash buffer atau cadangan uang tunai sering kali lebih penting daripada gaya hidup sesaat,” ujarnya.
Gunakan untuk perayaan secukupnya
THR juga dapat digunakan untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga, namun pengeluaran untuk perayaan disarankan tetap wajar dan tidak berlebihan. Masyarakat juga dapat mempertimbangkan menggunakan sebagian THR untuk investasi berisiko rendah, seperti emas, Surat Berharga Negara (SBN), atau reksa dana.
Instrumen tersebut dinilai relatif stabil dan dapat membantu menjaga nilai uang di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan perencanaan yang tepat, THR tidak hanya habis untuk konsumsi sesaat, tetapi juga dapat membantu memperkuat kondisi keuangan dalam jangka panjang.

