BERITA TERKINI
Prof. Eddy Ariyono: Indonesia Mengenal Hidrokarbon Sejak Akhir Abad ke-19

Prof. Eddy Ariyono: Indonesia Mengenal Hidrokarbon Sejak Akhir Abad ke-19

Prof. Dr. Ir. Eddy Ariyono Subroto menyampaikan bahwa Indonesia telah mengenal hidrokarbon sejak akhir abad ke-19, seiring dimulainya aktivitas pencarian dan penemuan minyak bumi pada masa kolonial. Hal itu ia paparkan dalam seri webinar Geologi ITB Menyapa: Solidaritas untuk Negeri bertema “Ilmu Geokimia Petroleum: Diharapkan tetapi Dilupakan”.

Dalam pemaparannya, Prof. Eddy menilai ilmu geokimia kembali berkembang pada 2004, didorong kemajuan peralatan geokimia dan perangkat lain, terutama komputer. Meski relatif muda, ia menilai geokimia kerap terlupakan, padahal dibutuhkan untuk memperoleh minyak bumi.

Petroleum dan hidrokarbon

Prof. Eddy menjelaskan geokimia petroleum dari berbagai aspek, mulai dari definisi, sejarah perkembangan perminyakan di dunia dan Indonesia, sejarah singkat perkembangan ilmu geokimia petroleum, proses terbentuknya hidrokarbon, hingga cara menemukannya. Ia juga mengingatkan bahwa petroleum tidak semata-mata dipahami sebagai minyak bumi.

Menurutnya, pemahaman tersebut penting karena masih banyak yang menganggap petroleum hanya sebatas minyak bumi, padahal produk petroleum dibentuk oleh hidrokarbon dan tidak terbatas pada satu jenis saja. Ia menambahkan bahwa hidrokarbon telah dikenal dalam sejarah perkembangan manusia bahkan sejak sebelum masehi.

Awal pencarian minyak bumi di Indonesia

Prof. Eddy menuturkan, penelusuran sejarah geokimia petroleum membawa kembali ke abad ke-19, ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Pencarian minyak bumi di Indonesia disebut dimulai pada 1871. Saat itu, beberapa sumur dibor di Jawa Barat, namun tidak membuahkan hasil.

Meski demikian, pengeboran di Jawa Barat tersebut disebut sebagai pengeboran sumur minyak bumi pertama di Indonesia. Selanjutnya, pada 1883, rembesan minyak bumi di Indonesia ditemukan secara tidak sengaja di Langkat, Sumatera Utara. Dari temuan rembesan itu, dua tahun kemudian minyak bumi berhasil ditemukan dari sumur Telaga Tunggal.

Penemuan pertama di Telaga Tunggal kemudian dikenal sebagai Telaga Said, yang disebut menjadi lapangan minyak pertama sekaligus titik awal produksi minyak bumi di Indonesia. Dari rangkaian sejarah tersebut, Prof. Eddy menyimpulkan bahwa hidrokarbon telah dikenal di Indonesia sejak akhir abad ke-19.

Tahapan memperoleh hidrokarbon

Prof. Eddy juga mengajak peserta memahami bahwa memperoleh hidrokarbon bukan proses yang sederhana. Untuk menemukannya, diperlukan rangkaian tahapan eksplorasi. Selain mencari rembesan minyak (prospektor), metode geologi-geofisika dan metode geokimia juga perlu dipertimbangkan.

Sampel yang diperoleh kemudian dianalisis. Dalam metode geokimia, sampel dapat berupa batuan sedimen (induk), minyak bumi, atau gas bumi. Analisis dibedakan menjadi analisis dasar (seleksi), biomarker, dan pemodelan geokimia. Sampel dinilai berdasarkan parameter tertentu yang ditentukan melalui perhitungan matematis, lalu hasilnya harus melalui tahap validasi.

Perhitungan volume dan kehati-hatian seleksi sampel

Dalam menghitung volume hidrokarbon dari sampling, ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, yakni pembentukan hidrokarbon, ekspulsi, migrasi dan pemerangkapan, serta pengawetan. Prof. Eddy menekankan perhitungan yang krusial terkait TOC (total organic carbon) dan kematangan hidrokarbon. Menurutnya, ketelitian pada tahap ini penting untuk memperkirakan persentase ekspulsi minyak dan gas bumi yang diperoleh, serta jumlah barelnya.

Di akhir pemaparan, Prof. Eddy mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam seleksi sampel untuk analisis geokimia. Ia menilai pendekatan kuantitatif diperlukan, namun tidak boleh menjadi satu-satunya cara pandang karena turut menentukan keberhasilan pencarian minyak dan gas bumi.