BERITA TERKINI
Ramadan Dinilai Jadi Peluang BRK Syariah Perkuat Literasi Keuangan Syariah di Riau dan Kepri

Ramadan Dinilai Jadi Peluang BRK Syariah Perkuat Literasi Keuangan Syariah di Riau dan Kepri

PEKANBARU — Doktor Antropologi M. Rawa El Amady menilai bulan suci Ramadan 1447 H dapat menjadi momentum strategis bagi Bank Riau Kepri Syariah (BRK Syariah) untuk memperkuat literasi keuangan syariah di Riau dan Kepulauan Riau. Menurutnya, Ramadan tidak hanya menjadi ruang peningkatan ibadah spiritual, tetapi juga periode ketika masyarakat lebih terbuka menerima konsep pengelolaan keuangan berbasis prinsip keadilan dan keberkahan.

Di tengah meningkatnya aktivitas zakat dan sedekah selama Ramadan, M. Rawa El Amady mengatakan pesan-pesan tentang ekonomi syariah dan sistem keuangan bebas riba lebih mudah diterima. “Ramadan adalah waktu yang sangat tepat. Saat kesadaran spiritual meningkat, pesan-pesan tentang ekonomi syariah dan sistem keuangan bebas riba lebih mudah diterima oleh masyarakat,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).

Ia menyebut literasi yang didorong BRK Syariah tidak hanya berfokus pada pengenalan produk tabungan, melainkan juga menyentuh aspek etika ekonomi Islam. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang disosialisasikan, yakni keadilan dan kemitraan untuk menghindari sistem bunga yang memberatkan, larangan gharar atau menghilangkan ketidakjelasan dalam transaksi, serta anti-maisir untuk menjauhkan masyarakat dari praktik spekulasi berlebihan atau judi terselubung.

Selain itu, dosen Universitas Lancang Kuning (Unilak) tersebut menyampaikan bahwa sebagai bank daerah yang telah bertransformasi penuh, BRK Syariah menyasar berbagai lapisan masyarakat melalui kajian Ramadan dan kegiatan literasi di masjid-masjid. Program ini disebut tidak hanya menyasar individu, tetapi juga pelaku usaha mikro dan kecil (UMKM) serta mahasiswa, dengan tujuan memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Riau dan Kepulauan Riau.

Di sisi layanan, BRK Syariah juga memperkuat transaksi digital untuk memudahkan jemaah menunaikan kewajiban sosial keagamaan. Pembayaran Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) disebut kini dapat diakses lebih praktis melalui fasilitas perbankan digital.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari pengamat ekonomi syariah. Peningkatan literasi dinilai berpotensi mendorong inklusi keuangan, sehingga masyarakat tidak hanya memahami konsep, tetapi juga aktif menggunakan layanan syariah untuk mendukung kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.