BERITA TERKINI
MENGUBAH MAKAN BERGIZI GRATIS JUGA SEBAGAI MESIN EKONOMI RAKYAT

MENGUBAH MAKAN BERGIZI GRATIS JUGA SEBAGAI MESIN EKONOMI RAKYAT

Oleh Denny JA

Seorang ibu di sebuah desa di Nusa berkata, “kami tidak butuh belas kasihan. Kami hanya butuh pembeli yang datang setiap hari.”

Kalimat itu sederhana. Namun ia menyimpan seluruh tragedi ekonomi rakyat kecil. Petani menanam tanpa kepastian pasar. Nelayan melaut tanpa kepastian harga. Peternak memelihara ayam tanpa kepastian pembeli.

Ketika Program Makan Bergizi Gratis hadir, saya melihat peluang yang lebih besar daripada sekadar memberi makan anak.

Untuk pertama kalinya, negara memiliki kesempatan menghubungkan meja makan sekolah dengan sawah petani, kolam nelayan, kandang peternak, dan dapur UMKM.

Jika dirancang dengan benar, setiap piring makan anak Indonesia dapat menjadi sumber kehidupan bagi jutaan keluarga. Di situlah sesungguhnya masa depan MBG dipertaruhkan.

Dengan anggaran sekitar Rp335 triliun setahun dan target hampir 83 juta penerima manfaat, MBG bukan lagi sekadar program gizi. Ia berpotensi menjadi pasar pangan terbesar yang pernah diciptakan negara Indonesia.

Setiap pagi, jutaan telur, ikan, ayam, sayur, dan beras harus tersedia. Jika seluruh rantai pasoknya berasal dari rakyat kecil, maka untuk pertama kalinya dalam sejarah republik, meja makan sekolah dapat menjadi mesin ekonomi desa.

-000-

Beberapa hari terakhir, publik dikejutkan oleh penetapan tersangka terhadap mantan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana, mantan Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung, dan Sony Sonjaya.

Ini kasus dugaan penyimpangan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis.

Kasus ini menyakitkan karena menyentuh program yang lahir dari niat paling mulia: memberi makan anak-anak Indonesia agar tumbuh sehat dan cerdas.

Namun setiap krisis selalu menyimpan peluang pembaruan.
Pergantian pimpinan BGN tidak boleh berhenti pada pergantian nama. Yang harus berubah adalah orientasi dan tata kelolanya.

Jika sebelumnya fokus utama hanya distribusi makanan, kini saatnya MBG dipandang sebagai instrumen pembangunan ekonomi rakyat.

Bangsa ini tidak membutuhkan sekadar pergantian pejabat. Bangsa ini membutuhkan perubahan paradigma.

MBG harus menjadi program yang bukan hanya mengenyangkan anak, tetapi juga menggerakkan desa.

Bukan hanya memperbaiki gizi, tetapi juga memperkuat ekonomi rakyat.

Bukan hanya mengurangi stunting, tetapi juga mengurangi kemiskinan.

-000-

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mendesentralisasikan dapur MBG dan menjadikannya pusat ekonomi lokal.

Selama bertahun-tahun, banyak program pemerintah terjebak dalam sentralisasi pengadaan. Kontrak besar diberikan kepada kelompok besar. Distribusi dikuasai segelintir pihak. Akibatnya uang negara berputar di lingkaran yang sempit.

MBG harus mengambil jalan berbeda.

Di banyak desa, kemiskinan bukan lahir karena orang malas bekerja. Kemiskinan lahir karena hasil kerja tidak pernah bertemu pembeli yang pasti. MBG dapat menjadi jembatan yang selama ini hilang.

Dapur MBG perlu dikelola koperasi desa, BUMDes, sekolah, pesantren, dan kelompok masyarakat lokal. Bahan bakunya harus dibeli dari petani, peternak, nelayan, dan UMKM setempat.

Dengan cara ini, uang negara tidak berhenti di dapur. Ia mengalir ke sawah, ke kolam ikan, ke kandang ayam, ke pasar desa.

Setiap rupiah menghasilkan efek berlipat. Ekonom menyebutnya multiplier effect.

Rakyat menyebutnya rezeki.

Ketika sekolah membutuhkan telur setiap hari, peternak berani memperbesar kandangnya. Ketika dapur membutuhkan sayur setiap hari, petani berani memperluas lahannya. Ketika pasar menjadi pasti, keberanian untuk berproduksi tumbuh.

Dan sering kali, keberanian untuk berproduksi jauh lebih berharga daripada subsidi.

-000-

Hal kedua adalah menjadikan MBG sebagai investasi sumber daya manusia sekaligus investasi ekonomi rakyat.

Banyak orang melihat MBG hanya sebagai program konsumsi. Padahal jika dirancang dengan baik, MBG adalah investasi jangka panjang yang sangat produktif.

Anak yang mendapatkan gizi baik memiliki peluang belajar lebih baik. Kemampuan kognitif meningkat. Risiko penyakit menurun. Produktivitas masa depan bertambah.

Inilah yang oleh para ekonom disebut human capital investment. Namun manfaatnya tidak berhenti di sana.

Sejarah pembangunan menunjukkan bahwa negara maju tidak dibangun oleh konglomerat semata. Ia dibangun oleh jutaan usaha kecil yang tumbuh karena memperoleh pasar yang stabil dan berkelanjutan.

Ketika rantai pasok MBG dibangun dari ekonomi lokal, maka investasi terhadap anak juga menjadi investasi terhadap keluarga mereka.

Anak mendapat makanan bergizi.
Orang tuanya mendapat pasar. Petani mendapat pembeli. Nelayan mendapat kepastian pendapatan.

UMKM mendapat kesempatan berkembang. Maka satu program menghasilkan dua keuntungan sekaligus.

Keuntungan sosial berupa peningkatan kualitas generasi. Keuntungan ekonomi berupa peningkatan pendapatan rakyat.

Dalam teori pembangunan modern, inilah yang disebut pembangunan inklusif. Pertumbuhan ekonomi manfaatnya dirasakan banyak orang, bukan hanya segelintir kelompok.

-000-

Hal ketiga adalah membangun tata kelola yang transparan dan dapat diawasi publik. Tidak ada program sebesar MBG yang dapat berhasil tanpa kepercayaan.

Dan kepercayaan lahir dari transparansi. Setiap rupiah anggaran harus dapat dilacak. Setiap kontrak harus terbuka.

Setiap dapur harus diaudit. Setiap pengadaan harus dapat diperiksa masyarakat.

Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa program sosial gagal bukan karena tujuannya salah.
Program gagal karena tata kelolanya lemah.

Karena itu reformasi BGN harus dimulai dari tata kelola digital yang terbuka. Dashboard pengadaan, pemasok, distribusi, dan kualitas makanan harus dapat dipantau publik.

Kepercayaan adalah modal pembangunan yang paling mahal.
Uang yang hilang masih bisa dicari.
Kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dikembalikan.

Jika MBG mampu menjaga kepercayaan publik, ia akan menjadi salah satu investasi sosial terbesar dalam sejarah Indonesia.

Lima puluh tahun dari sekarang, bangsa ini mungkin tidak lagi mengingat siapa pejabat yang mengelola MBG. Namun bangsa ini akan mengingat jika program tersebut berhasil mengangkat martabat jutaan keluarga.

-000-

Dua buku di bawah ini menambah wawasan kita soal topik di atas. Buku pertama adalah Poor Economics karya Abhijit V. Banerjee dan Esther Duflo, terbit tahun 2011.

Melalui penelitian lapangan di berbagai negara berkembang, kedua peraih Nobel Ekonomi ini menunjukkan bahwa program pengentasan kemiskinan berhasil bukan karena besarnya anggaran, melainkan karena ketepatan desain kebijakan.

Mereka menemukan bahwa investasi pada kesehatan, gizi, dan pendidikan anak memberikan manfaat ekonomi jangka panjang yang jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

Pelajaran terpenting bagi MBG adalah bahwa program sosial harus dirancang agar menghasilkan perubahan perilaku dan produktivitas, bukan sekadar bantuan sesaat.

Yang lebih menarik lagi, Banerjee dan Duflo berulang kali menunjukkan bahwa keluarga miskin sering kali bukan kekurangan kemauan bekerja. Mereka kekurangan akses pada pasar, modal, dan kepastian pendapatan. Ketika ketiga unsur itu tersedia, masyarakat miskin mampu berkembang dengan cepat.

Dalam konteks MBG, pelajaran ini sangat penting. Negara tidak cukup hanya memberi makan anak sekolah. Negara perlu menciptakan ekosistem ekonomi yang membuat petani, nelayan, peternak, dan UMKM memiliki pembeli yang pasti setiap hari.

Dengan demikian, MBG tidak lagi menjadi biaya sosial semata, tetapi berubah menjadi investasi produktif yang memperkuat ekonomi akar rumput. Inilah inti gagasan bahwa setiap piring makanan dapat menjadi mesin ekonomi rakyat.

-000-

Buku kedua adalah The End of Poverty karya Jeffrey D. Sachs, terbit tahun 2005.

Sachs menjelaskan bahwa kemiskinan sering kali merupakan perangkap yang membuat masyarakat tidak mampu keluar dari keterbelakangan.

Solusinya bukan hanya pertumbuhan ekonomi makro, melainkan investasi langsung pada kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat akar rumput.

Bagian paling relevan bagi MBG adalah gagasan bahwa intervensi negara yang tepat dapat memutus lingkaran kemiskinan dan menciptakan siklus pembangunan baru yang berkelanjutan.

Sachs menekankan bahwa masyarakat miskin sering terjebak dalam lingkaran yang saling memperkuat. Anak yang kurang gizi cenderung memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah.

Pendidikan yang rendah menghasilkan produktivitas yang rendah. Produktivitas yang rendah menghasilkan pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah kembali menciptakan kekurangan gizi pada generasi berikutnya.

MBG berpotensi memutus rantai tersebut dari titik yang paling mendasar: makanan. Namun peluangnya akan jauh lebih besar jika program ini juga menciptakan pasar yang stabil bagi ekonomi lokal.

Ketika anak memperoleh gizi yang lebih baik dan orang tuanya memperoleh pendapatan yang lebih pasti, negara memecahkan dua persoalan sekaligus.

Ia memperbaiki kualitas generasi masa depan dan memperkuat fondasi ekonomi keluarga hari ini. Dalam perspektif Sachs, inilah bentuk pembangunan yang paling efektif: satu kebijakan yang menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi secara bersamaan.

-000-

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar tentang MBG bukanlah berapa juta porsi makanan yang dibagikan setiap hari.

Pertanyaan terbesarnya adalah apakah program ini mampu mengubah nasib jutaan rakyat kecil yang selama ini hidup tanpa kepastian pasar.

Jika MBG hanya memberi makan anak, manfaatnya besar.

Namun jika MBG sekaligus menghidupkan petani, nelayan, peternak, koperasi, UMKM, dan desa, manfaatnya akan berlipat ganda.

Setiap desa perlu merencanakan produksi harian: telur, ikan, sayur, beras. Koperasi desa membuat peta pasokan, jadwal panen, dan kapasitas gudang. Sekolah mencatat kebutuhan harian. Sistem digital mencatat transaksi real-time. Pembayaran cepat ke petani.

Kontrol kualitas wajib diterapkan: pemeriksaan gizi, kebersihan dapur, dan standar pangan. Tim mandiri desa melakukan pengawasan rutin. Pelanggaran ditindak tegas.

Hasil audit dipublikasikan. Masyarakat dapat melacak setiap rupiah. Kepercayaan publik tumbuh lewat akuntabilitas nyata di lapangan.

Pemerintah wajib mendampingi teknologi ini dengan standardisasi kualitas nasional, agar keterbatasan infrastruktur desa tidak menghambat pasokan gizi yang higienis, aman, dan merata hingga ke wilayah terpencil.

Contoh yang paling kuat adalah Brasil. Negara ini memberikan pelajaran berharga. Melalui Program Nasional Pemberian Makanan Sekolah (PNAE), pemerintah mewajibkan sebagian bahan pangan sekolah dibeli langsung dari petani kecil lokal.

Akibatnya, jutaan anak memperoleh makanan bergizi, sementara ribuan keluarga petani mendapatkan pasar yang pasti. Program gizi berubah menjadi mesin pembangunan desa dan pengurangan kemiskinan sekaligus.

Saat itulah setiap piring makan bukan lagi sekadar makanan.
Ia menjadi jembatan antara gizi dan produktivitas, antara sekolah dan sawah, antara masa kini dan masa depan Indonesia.

Bangsa tidak dibangun hanya oleh bantuan yang habis dimakan hari ini, melainkan juga oleh pasar yang membuat rakyat mampu berdiri esok hari.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sekadar memberi makan anak-anaknya, melainkan bangsa yang membuat setiap piring makanan menjadi jalan naiknya martabat dan kapasitas rakyatnya.

Saya membayangkan seorang petani telur di Blitar. Setiap pagi ia tidak lagi bertanya apakah dagangannya laku. Ia tahu ribuan anak sekolah sedang menunggunya.***

Jakarta, 5 Juni 2026

REFERENSI

1. Poor Economics: A Radical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty, Abhijit V. Banerjee & Esther Duflo, PublicAffairs, 2011.
2. The End of Poverty: Economic Possibilities for Our Time, Jeffrey D. Sachs, Penguin Press, 2005.