Sepekan setelah konflik memanas di Timur Tengah, dampaknya mulai terlihat nyata pada pasar energi dan perekonomian global. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun beroperasi, kompleks LNG Ras Laffan—pusat ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di Qatar—menghentikan operasi sementara. Pada saat yang sama, harga eceran solar di Amerika Serikat dilaporkan naik lebih dari 51 sen hanya dalam satu minggu.
Dua perkembangan dari sisi pasokan dan harga energi itu menjadi sinyal awal bahwa gejolak geopolitik telah merembet ke ekonomi riil. Lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok energi, hingga tekanan pada sektor transportasi dan pasar keuangan mulai membentuk rangkaian risiko baru bagi pemulihan ekonomi global yang dinilai masih rapuh.
Selat Hormuz jadi titik rawan
Serangan udara yang melibatkan AS, Israel, dan Iran mendorong lonjakan tajam harga energi, menurut laporan Financial Times dan Reuters. Minyak mentah Brent ditutup pada level US$92,69 per barel, naik sekitar 28% dalam sepekan. Sementara minyak mentah WTI AS naik 36% menjadi US$90,90 per barel, yang disebut sebagai kenaikan mingguan terkuat sejak pencatatan data dimulai pada 1983.
Kenaikan ini dikaitkan dengan meningkatnya risiko di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Meski tidak ada blokade resmi, banyak kapal tanker menghindari wilayah tersebut karena risiko militer. Perusahaan asuransi juga menaikkan premi asuransi perang secara signifikan, yang membuat arus transportasi energi melalui Hormuz dilaporkan hampir lumpuh.
Gangguan tidak hanya terjadi pada jalur pelayaran. Sejumlah fasilitas energi di kawasan turut terdampak: ladang minyak Shaybah di Arab Saudi dilaporkan diserang, kilang Ras Tanura terbakar, dan Irak menghentikan sementara produksi di ladang minyak raksasa Rumaila.
Goldman Sachs memperkirakan, bila gangguan di Selat Hormuz berlanjut, harga minyak dapat dengan mudah melampaui US$100 per barel dalam waktu singkat. Menteri Energi Qatar juga memperingatkan harga minyak bisa naik hingga US$150 per barel jika pertempuran meningkat.
Inflasi kembali membayangi
Guncangan energi mulai menekan upaya bank sentral global dalam mengendalikan inflasi. Di AS, harga eceran rata-rata bensin naik menjadi US$3,32 per galon, level tertinggi sejak Agustus 2024. Harga diesel—bahan bakar utama sektor logistik—meningkat menjadi US$4,264 per galon.
Kenaikan diesel dinilai berisiko menular ke harga barang karena biaya transportasi meningkat, termasuk pada komoditas sehari-hari hingga bahan bangunan.
Di Eropa, dampak terlihat lebih cepat. Menurut The National News, penutupan sementara kompleks LNG Ras Laffan mendorong harga gas di Eropa naik lebih dari 52% hanya dalam satu hari. Kenaikan biaya energi ini meningkatkan risiko pengurangan produksi pada industri padat listrik seperti baja, aluminium, kimia, dan pupuk.
JPMorgan memperkirakan setiap kenaikan harga minyak 10% dapat menambah inflasi AS sebesar 0,1 poin persentase dan menurunkan pertumbuhan PDB sebesar 0,2 poin persentase. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan dunia berpotensi memasuki “periode volatilitas yang berkepanjangan,” yang membuat prospek pendaratan lunak ekonomi global semakin rapuh.
Penerbangan terdampak, biaya membengkak
Gangguan tidak hanya terjadi di laut. Selama tujuh hari terakhir, industri penerbangan global ikut terkena imbas setelah maskapai-maskapai besar kawasan Teluk seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways menangguhkan sejumlah penerbangan komersial.
Data perusahaan analisis penerbangan Cirium mencatat lebih dari 29.500 penerbangan di atas Timur Tengah dibatalkan atau dialihkan dari sekitar 51.000 penerbangan terjadwal.
Maskapai menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, pendapatan tiket hilang dan disebut kerap tidak sepenuhnya ditanggung asuransi perang, menurut pakar Nolwenn Allano dari perusahaan manajemen risiko EIRS yang dikutip The National News. Di sisi lain, biaya operasional meningkat karena harga bahan bakar jet di Eropa Barat Laut naik sekitar 12% ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Premi asuransi perang serta biaya penyesuaian rute juga meningkat, membuat operasi penerbangan menjadi lebih mahal.
Pasar keuangan bergejolak, investor mencari pegangan
Tekanan geopolitik juga mengubah dinamika pasar keuangan global. Reuters melaporkan suasana kepanikan mengingatkan pada periode sebelum pandemi Covid-19, dengan indeks volatilitas VIX bertahan di sekitar 20 poin. Namun, investor dinilai menghadapi ketidakpastian karena sejumlah skenario investasi yang sebelumnya lazim berubah cepat.
Dolar AS menguat sebagai aset aman, naik sekitar 1,7% dalam sepekan menuju kenaikan terkuatnya sejak akhir 2024, yang sekaligus menambah tekanan pada mata uang negara berkembang. Sementara itu, beberapa aset yang sebelumnya kerap dipandang sebagai “safe haven” seperti emas atau saham teknologi berkapitalisasi besar disebut berada di bawah tekanan jual, seiring investor mencari likuiditas untuk menutup kerugian di pasar lain.
Di pasar obligasi, kekhawatiran inflasi memunculkan ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun naik sekitar 0,39 poin persentase, sementara imbal hasil Treasury AS naik sekitar 0,2 poin persentase.
Kevin Thozet dari perusahaan manajemen dana Carmignac menilai pasar meremehkan risiko inflasi jangka menengah dan menyarankan pergeseran ke aset terkait inflasi sebagai langkah defensif. Dan Izzo, pendiri hedge fund BLKBRD, menggambarkan kebingungan investor dengan pertanyaan yang banyak muncul: “Aset apa yang sebaiknya saya beli sekarang?”
Risiko meluas bila minyak tembus US$100
Konflik di Timur Tengah—wilayah pemasok energi dunia—mengganggu skenario ekonomi yang dibangun pada awal tahun. Setelah periode pengetatan moneter yang panjang, ekonomi global memasuki 2026 dengan pemulihan yang rapuh. Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan berisiko menggagalkan proses tersebut.
Nicolas Forest, kepala bagian investasi Candriam, menilai pada banyak krisis sebelumnya dampak pada pasar saham cenderung singkat. Namun ia mengingatkan, jika harga minyak menembus US$100 per barel, situasinya dapat berubah: ketika energi semakin mahal, biaya produksi, transportasi, hingga konsumsi ikut naik, sehingga guncangan dari Timur Tengah berpotensi bergeser dari persoalan regional menjadi masalah bagi ekonomi global.

