Jakarta — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menyepakati upaya untuk memecahkan rekor produksi migas Indonesia pada 2030, seiring kebutuhan energi yang terus meningkat.
Pada 2030, SKK Migas menargetkan produksi minyak bumi sebesar 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan gas alam 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD). Jika digabungkan, target tersebut setara dengan 3,2 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, bila rencana tersebut tercapai, capaian itu akan menjadi rekor produksi migas terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Ia menyebut rekor produksi migas tertinggi sebelumnya terjadi pada 1998, yakni sebesar 2,96 juta BOEPD.
Dwi menekankan, upaya mencapai target tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pemangku kepentingan. Untuk memastikan target 3,2 juta BOEPD pada 2030 dapat dicapai tepat waktu, SKK Migas menetapkan enam pilar strategis dan empat pilar pendukung (enablers) dalam Rencana Strategis Indonesia Oil & Gas 4.0 (IOG 4.0).
Dalam Forum Group Discussion Exploration and Production 2020 (FGD EP 2020) yang digelar secara virtual, SKK Migas membahas empat dari enam pilar strategis. Keempatnya meliputi mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi, akselerasi dari sumber daya ke produksi, transformasi dari sumber daya migas ke produksi melalui Enhanced Oil Recovery (EOR), serta eksplorasi secara masif.
Menurut Dwi, empat pilar tersebut berkaitan langsung dengan target produksi 3,2 juta BOEPD pada 2030. Sejumlah program pada pilar-pilar itu disebut telah berjalan. Pada pilar mempertahankan produksi existing, SKK Migas melaporkan tambahan produksi melalui program Fill The Gap sebesar 18.300 BOPD dan 17 MMSCFD rerata produksi tahunan, serta investasi awal berupa pengeboran lebih dari 200 sumur di Wilayah Kerja (WK) Rokan.
Untuk akselerasi dari sumber daya ke produksi, SKK Migas menyampaikan percepatan onstream Plan of Development (POD) Lapangan PB di WK Mahato dan Lapangan KBD di WK Sakakemang, penyelesaian proposal insentif, serta pengeboran empat sumur delineasi di Natuna guna mempercepat pengembangan temuan yang belum dikembangkan (undeveloped discovery).
Di sisi EOR, SKK Migas dan KKKS melakukan evaluasi Pre-POD Lapangan Minas di WK Rokan dengan target onstream pada 2024.
Sementara untuk mendukung eksplorasi masif, SKK Migas melalui KKP WK Jambi Merang melaksanakan akuisisi seismik dua dimensi di wilayah terbuka sepanjang 32.200 kilometer. Dwi menyebut kegiatan itu sebagai akuisisi seismik terbesar di Asia Pasifik dalam 10 tahun terakhir.
Terobosan lain yang disiapkan adalah pemrosesan ulang data seismik yang mencakup area 270.000 kilometer persegi dari laut Jawa Timur hingga Selat Makassar. Data dari survei sebelumnya akan diproses ulang menggunakan teknologi terkini, dengan harapan dapat memberikan informasi tentang potensi migas baru.
FGD EP 2020 yang mengusung tema New Paradigm for More Oil and Gas Production berlangsung hingga Jumat (6/11). Forum ini diharapkan menjadi wadah diskusi SKK Migas dan KKKS untuk merumuskan strategi pengembangan industri hulu migas agar target produksi 1 juta BOPD minyak dan 12 BSCFD gas pada 2030 dapat tercapai.
FGD EP 2020 juga merupakan rangkaian kegiatan pendahuluan menuju 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil & Gas yang dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Desember 2020. Kegiatan tersebut ditujukan untuk membahas kebutuhan para pihak terkait industri hulu migas dalam menjalankan Rencana Strategis IOG 4.0, sekaligus mempertemukan pemangku kepentingan guna mendorong hubungan yang harmonis dalam kegiatan usaha hulu migas.

