BERITA TERKINI
SKK Migas: Decommissioning Tepat Waktu Jadi Bagian Strategi IOG 4.0 Menuju 2030

SKK Migas: Decommissioning Tepat Waktu Jadi Bagian Strategi IOG 4.0 Menuju 2030

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan bahwa rencana dan strategi (Renstra) Indonesia Oil & Gas (IOG) 4.0 menargetkan tiga capaian utama pada 2030. Target tersebut mencakup produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 miliar kaki kubik per hari untuk memaksimalkan potensi penerimaan yang disebut mencapai US$ 470 miliar, peningkatan multiplier effect sektor hulu migas bagi Indonesia, serta memastikan keberlanjutan lingkungan.

Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf mengatakan, salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan adalah pelaksanaan decommissioning tepat waktu. Dalam kerangka IOG 4.0, hal ini tercantum dalam strategic pillars nomor 6, yakni driving efficient & collaborative decommissioning.

Pernyataan tersebut disampaikan Nanang saat menjadi narasumber dalam kegiatan 3rd Korea–Indonesia Offshore Congress yang berlangsung pada 14 Maret di Jakarta. Ia menjelaskan, dari 12 program kunci untuk menunjang pencapaian target IOG 4.0, program nomor 6.a adalah national decommissioning strategy.

Menurut Nanang, terdapat tiga tantangan utama yang sangat menentukan dalam pelaksanaan decommissioning. Tantangan itu meliputi aspek regulasi dan pendanaan, serta metode dan teknologi yang digunakan.

Dalam pelaksanaan key program 6.a, SKK Migas menyiapkan 10 rencana aktivitas, yaitu forum feedback untuk menampung masukan dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan pemangku kepentingan; playground berupa pelaksanaan proyek decommissioning; penyusunan regulatory framework melalui usulan kerangka regulasi; strategy development terkait prinsip-prinsip strategi decommissioning; serta reporting berupa laporan tahunan pelaksanaan decommissioning.

Rencana aktivitas lainnya mencakup decommissioning project definition berupa panduan dan catatan pelaksanaan; decommissioning cost profile untuk memetakan kebutuhan biaya jangka pendek, menengah, dan panjang; independent appraisal terkait kandidat serta kebutuhan biaya decommissioning; database development berupa lembar data aset; serta colaboration melalui kerja sama dengan KKKS, pemangku kepentingan, dan institusi eksternal.

Nanang menambahkan, beberapa hal mendasar yang perlu disiapkan dalam pelaksanaan decommissioning antara lain penyusunan database decommissioning secara nasional, penyusunan panduan untuk memastikan keamanan serta pelaksanaan yang efektif dan efisien, dan penyiapan roadmap decommissioning.

Terkait penguatan strategi pelaksanaan, ia menyebut kebutuhan utama adalah menyiapkan masterplan decommissioning nasional serta dukungan dari para pemangku kepentingan. Sementara untuk menjaga keberlanjutan program, SKK Migas menekankan pentingnya kinerja proyek decommissioning, kolaborasi antarindustri guna menciptakan nilai kemanfaatan ekonomi, serta pembaruan metode dan teknologi secara berkelanjutan.