BERITA TERKINI
Sorotan Ekonomi Global 5 Maret 2026: Risiko Konflik Timur Tengah, Gejolak Energi, dan Dinamika Teknologi

Sorotan Ekonomi Global 5 Maret 2026: Risiko Konflik Timur Tengah, Gejolak Energi, dan Dinamika Teknologi

Dinamika ekonomi global pada 5 Maret 2026 ditandai meningkatnya risiko baru dari konflik di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi, inflasi, hingga arah kebijakan suku bunga. Di saat yang sama, sejumlah perkembangan lain muncul, mulai dari kebijakan penguatan perbankan di China, upaya Prancis membangun ekosistem desain chip, hingga keputusan Nvidia terkait produksi chip AI untuk pasar Tiongkok.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa ketahanan ekonomi dunia kembali diuji seiring pecahnya perang baru di Timur Tengah. Dalam konferensi “Asia 2050” di Bangkok, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menekankan bahwa konflik yang berkepanjangan akan membawa dampak negatif yang jelas terhadap harga energi, sentimen pasar, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi. Situasi ini, menurutnya, juga akan menambah tekanan bagi para pembuat kebijakan di berbagai negara.

Ketegangan di kawasan tersebut turut memaksa pelaku pasar menilai ulang prospek inflasi Amerika Serikat dan arah suku bunga Federal Reserve. Torsten Sløk dari Apollo Global Management memperkirakan bahwa jika harga minyak naik sebesar US$50 per barel, inflasi AS pada kuartal kedua 2026 dapat sekitar 1 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan dasar.

Gangguan pada jalur energi utama menjadi salah satu sorotan. Perusahaan riset pasar energi Kpler melaporkan pada 4 Maret bahwa lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz turun 90% sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir pekan sebelumnya. Pejabat militer Iran mengklaim telah sepenuhnya memblokir jalur air yang mengangkut sekitar 20% minyak mentah dunia, meski Kpler mencatat masih ada kapal yang tetap mengambil risiko melintas.

Dampak lain terlihat pada biaya logistik. Ongkos pengiriman minyak mentah dari AS ke Asia mencetak rekor baru di tengah gangguan jalur pelayaran vital tersebut. Data Baltic Exchange (London) per 4 Maret menunjukkan biaya penyewaan kapal tanker super berkapasitas 2 juta barel dari Pantai Teluk AS ke China melampaui US$29 juta—level tertinggi yang pernah tercatat—dan sekitar dua kali lipat dibanding dua minggu sebelumnya. Kenaikan biaya ini dinilai berpotensi menghambat banyak transaksi perdagangan.

Di pasar gas, penghentian sementara ekspor LNG Qatar pada pekan ini mendorong lonjakan harga bahan bakar di Eropa dan Asia. Analis menilai perusahaan energi besar Barat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga tersebut. Perusahaan Eropa seperti Shell dan TotalEnergies, serta perusahaan AS seperti ExxonMobil dan Cheniere, disebut berpeluang meraih keuntungan besar, bahkan jika Qatar segera melanjutkan pengiriman yang sempat terhenti.

Konflik juga mengganggu sektor penerbangan. Laporan Cirium Ltd. yang dirilis 4 Maret menyebut pembatalan penerbangan ke titik transit di Timur Tengah telah melampaui 23.000 sejak pertempuran pecah. Angka ini lebih dari setengah dari 36.000 penerbangan terjadwal ke dan dari wilayah tersebut, dengan dampak sekitar 4,4 juta kursi.

Di luar isu energi dan geopolitik, perhatian tertuju pada kebijakan ekonomi dan industri di beberapa negara. Pemerintah China berencana menerbitkan obligasi pemerintah khusus senilai 300 miliar yuan (sekitar US$44 miliar) tahun ini untuk menambah modal inti Tier 1 bagi bank-bank komersial besar. Langkah ini disebut sebagai upaya terbaru untuk memperkuat sistem keuangan China yang bernilai US$69 triliun di tengah perlambatan ekonomi dan pasar yang bergejolak.

Di Eropa, Prancis meluncurkan program baru untuk mendukung bisnis desain chip “tanpa pabrik” (fabless). Program bernama Asteerics ini diluncurkan pada Juli 2025 dan secara resmi diperkenalkan di Paris pada akhir Januari 2026. Inisiatif tersebut terkait dengan Undang-Undang Chip Uni Eropa dan bertujuan membangun pusat kapasitas nasional untuk membantu perusahaan desain chip meraih keberhasilan internasional, dengan rujukan pada model perusahaan seperti Nvidia atau Qualcomm.

Sementara itu, Nvidia memutuskan menghentikan produksi chip kecerdasan buatan H200 yang dirancang khusus untuk pasar Tiongkok. Keputusan diambil meski terdapat pelonggaran peraturan ekspor AS baru-baru ini, dan mencerminkan bahwa perusahaan tersebut tidak lagi mengharapkan penjualan H200 yang signifikan di Tiongkok dalam waktu dekat.

Dari Amerika Serikat, pembahasan regulasi aset digital menghadapi hambatan. Negosiasi mengenai Clarity Act—RUU penting terkait mata uang kripto—dilaporkan menemui jalan buntu setelah bank-bank menyatakan tidak akan mendukung kompromi yang diusulkan Gedung Putih. Perkembangan ini menimbulkan keraguan atas peluang pengesahan RUU tersebut pada tahun ini dan memicu kritik dari Presiden Donald Trump.

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana eskalasi konflik dan gangguan rantai pasok energi dapat cepat merembet ke pasar keuangan, inflasi, transportasi, hingga keputusan bisnis dan kebijakan industri di berbagai negara.