Jakarta — Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan, dan Pembiayaan Lainnya pada Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Adi Budiarso, menilai sektor keuangan Indonesia berada dalam kondisi relatif stabil. Meski demikian, ia menyebut pendalaman sektor keuangan (financial deepening) masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa depan.
Pernyataan itu disampaikan Adi saat pemaparan dalam fit and proper test di DPR, Rabu, 11 Maret 2026. Menurutnya, pendalaman sektor keuangan nasional belum mencapai tingkat yang optimal.
“Saya melihat sektor keuangan Indonesia belum mencapai pendalaman yang sempurna. Jadi saya bilang, a better financial sector Indonesia is yet to come,” ujar Adi.
Adi menjelaskan, dari sisi stabilitas, sektor keuangan nasional menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penopangnya adalah kerangka regulasi yang semakin kuat, termasuk keberadaan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) serta Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan.
Ia juga menyinggung capaian Indonesia dalam evaluasi stabilitas sektor keuangan melalui program Financial Sector Assessment Program (FSAP) untuk periode 2017–2024.
“Nah, sekarang pekerjaan rumahnya ada di pengembangan. Pengembangan ini ada potensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menyiapkan sektor keuangan yang lebih dalam, lebih inklusif, yang lebih sustainable,” kata Adi.
Jika dipercaya menjadi anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Adi menyatakan akan mendorong penguatan pendekatan inklusif dalam pengembangan sektor keuangan. Ia menilai kesamaan visi antarpemangku kepentingan diperlukan agar kebijakan yang diambil memiliki arah strategis yang jelas.
“Kita harus memiliki kesamaan visi dan melakukan strategic thinking untuk mencapai target yang sudah ada di depan mata,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, Adi menilai Indonesia memiliki peluang memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncak sekitar 2038. Menurutnya, momentum tersebut perlu ditopang oleh sistem keuangan yang kuat, termasuk penguatan pasar modal, dana pensiun, dan industri asuransi sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Ia menekankan pendalaman pasar modal sebagai salah satu elemen penting dalam ekosistem pembiayaan ekonomi nasional, termasuk kaitannya dengan penguatan sektor asuransi dan dana pensiun.
“Jadi capital market ini kan kaitannya kemana-mana. Termasuk pendalaman di asuransi pensiun, pada saat uangnya nanti dinambah, kemana dia turun?,” ujarnya.
Adi juga menilai peningkatan investasi asing akan membutuhkan pasar keuangan domestik yang mampu menampung arus dana secara efisien dan transparan. Ia menegaskan pasar lokal perlu menjadi ruang pertemuan penyedia dana dan investor dalam ekosistem yang adil, kompetitif, transparan, dan berkelanjutan.
“Pasar lokal kita harus menjadi tempat di mana penyedia dana dan investor bisa bertemu dalam pasar yang fair, berdaya saing, transparan, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

