PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih sebesar Rp 565,6 miliar pada akhir 2025. Pada periode yang sama, perseroan mencatat total aset Rp 18,9 triliun, tumbuh 8,99% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Direktur Utama BNC Eri Budiono menyampaikan, dana pihak ketiga (DPK) pada 2025 tercatat Rp 14,03 triliun, naik 7,37% yoy dibandingkan Rp 13,06 triliun pada tahun sebelumnya. Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong peningkatan dana tabungan yang mencapai Rp 3,5 triliun dari Rp 3,09 triliun pada Desember 2024.
Selain tabungan, BNC mencatat deposito sebesar Rp 9,8 triliun. Dari sisi kualitas aset dan likuiditas, rasio kredit bermasalah (NPL) net berada pada level 0,89%, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) 51,21%, serta rasio cakupan likuiditas (liquidity coverage ratio/LCR) 614,93%.
“Kepercayaan nasabah yang terus meningkat menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan layanan perbankan digital yang aman, andal, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Eri dalam keterangan resmi, Rabu (1/4).
Dari sisi efisiensi, Eri menyebut rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berada di 84,1%, membaik dari 99,3% pada periode sebelumnya. BNC juga mencatat rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) sebesar 31,3% dan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) 14,3%.
Untuk profitabilitas, tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) tercatat 3,1% dari sebelumnya 0,10%. Sementara pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) meningkat menjadi 15,1% pada 2025 dari 0,59% pada 2024.
Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat 49,07%, naik dari 35,30% pada tahun sebelumnya. Eri mengatakan peningkatan ini didorong pertumbuhan laba bersih perusahaan. BNC juga mempertahankan posisi permodalan dengan modal inti sebesar Rp 4,03 triliun, meningkat dari Rp 3,3 triliun pada tahun sebelumnya.
“Kami akan terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta menjaga disiplin dalam pengelolaan risiko dan menjaga tata kelola yang baik sebagai landasan utama dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang dan melanjutkan momentum pencapaian positif hingga ke tahun-tahun selanjutnya,” ujar Eri.