Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia diprediksi menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada 2050. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat dengan prospek pertumbuhan yang positif.
Airlangga menyebut, dalam waktu dekat, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,4 persen pada 2026. Menurutnya, kekuatan ekonomi domestik salah satunya tercermin dari surplus perdagangan yang berlangsung selama 69 bulan berturut-turut.
Ia juga mengatakan pemerintah mempercepat strategi “Indonesia Incorporated”, yang didefinisikan sebagai sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama. Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat berbicara di Tokyo Conference 2026, Rabu (11/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan Indonesia siap memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra di kawasan guna menjaga ketahanan ekonomi global. Ia menilai negara-negara Asia berpotensi menjadi kekuatan ekonomi utama dunia.
Namun, ia menegaskan potensi ekonomi Asia hanya dapat terwujud apabila negara-negara di kawasan tetap berkomitmen pada kerja sama regional yang terbuka dan inklusif. Airlangga juga menekankan pentingnya menolak persaingan yang bersifat zero-sum.
Airlangga memproyeksikan pada 2050 China akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar 58 triliun dolar AS. India diperkirakan menempati posisi kedua dengan PDB 44 triliun dolar AS.
Indonesia disebutnya berpeluang menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia dengan PDB 10–11 triliun dolar AS. Sementara itu, Jepang diproyeksikan memiliki PDB 8–9 triliun dolar AS dan Korea Selatan sekitar 3–4 triliun dolar AS pada 2050.
Airlangga juga menilai ASEAN berpotensi menjadi salah satu blok ekonomi utama dunia pada 2050. Saat ini, ia menyebut PDB kolektif ASEAN mencapai 4,13 triliun dolar AS.
Ia mendorong penguatan konektivitas di kawasan serta menekankan pentingnya perdagangan terbuka berbasis aturan, alih-alih fragmentasi dan proteksionisme.

