PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan status pemenuhan kewajiban jumlah saham beredar di publik (free float) dan jumlah pemegang saham berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Kepemilikan Saham per 31 Desember 2025. Laporan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi pada Kamis (19/2/2026) itu mencatat terdapat 956 emiten tercatat yang mengungkapkan besaran free float sesuai standar yang ditentukan sebelumnya, yakni 7,5%.
Pada awal 2026, BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas minimum free float menjadi 15%. Ketentuan porsi saham beredar di publik tersebut berlaku pada akhir Januari 2026, sebagai respons atas evaluasi lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi pemegang saham dan likuiditas transaksi pasar saham di Indonesia.
Berdasarkan pencermatan terhadap emiten di papan akselerasi, sebanyak 37 dari 42 emiten tercatat memenuhi syarat free float 15%. Mayoritas emiten tersebut tercatat baru melantai di bursa pada periode 2020 hingga 2023, atau saat masa pandemi Covid-19.
Untuk emiten dengan porsi free float terbesar, lima teratas ditempati PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM) dengan free float 64,1%. Per 31 Desember 2025, SMKM memiliki 803.000.000 saham free float dengan 7.309 investor. Emiten sektor infrastruktur itu terakhir melaksanakan IPO pada 9 Maret 2022.
Posisi kedua diisi PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) dengan free float 58,9% atau 1.270.746.647 saham. Per 31 Desember 2025, emiten teknologi tersebut tercatat dimiliki oleh 11.818 investor dan melantai di bursa pada 5 Desember 2022.
Berikutnya, PT Menn Teknologi Indonesia Tbk (MENN) mencatat free float 57,5% per 31 Desember 2025. Pada periode tersebut, MENN memiliki 824.391.006 saham free float dengan 5.431 investor. MENN melakukan IPO pada 18 April 2023.
Di urutan keempat, PT Estee Gold Feet Tbk (EURO) memiliki free float 55,9% dengan jumlah saham beredar 1.425.180.728 saham. Per 31 Desember 2025, EURO tercatat memiliki 1.414 investor. Emiten sektor barang konsumen primer itu melantai di BEI pada 8 Agustus 2022.
Adapun urutan kelima ditempati PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) dengan free float 54,0% atau 1.038.011.428 saham. Per 31 Desember 2025, MEJA memiliki 7.626 investor. Emiten sektor barang konsumen non-primer tersebut merealisasikan IPO pada 12 Februari 2024.
Secara sektoral, emiten dengan free float di atas 15% disebut banyak berasal dari sektor barang konsumen non-primer (IDX Cyc), barang konsumen primer (IDX Noncyc), dan teknologi (IDX Techno).
Dari sisi waktu pencatatan perdana, emiten-emiten tersebut mayoritas melakukan IPO pada 2023 dengan jumlah 16 emiten. Aktivitas IPO kemudian menurun pada 2024 dengan tiga emiten. Pada tahun-tahun sebelumnya, tercatat lima emiten pada 2020, lima emiten pada 2021, dan delapan emiten pada 2022.
Isu free float menjadi salah satu sorotan MSCI menjelang peninjauan pada Mei 2026. Selain itu, MSCI juga menyoroti transparansi pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial ownership (UBO) emiten-emiten di Indonesia.
Pada kuartal I/2026, MSCI juga melakukan perombakan terhadap emiten Indonesia yang tercatat dalam indeks MSCI Global Standard dan MSCI Small Cap. Sebagian emiten dikeluarkan dari MSCI Global Standard dan dipindahkan ke MSCI Small Cap.

