Para pemimpin perusahaan, investor, dan pembuat kebijakan berkumpul di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menyelenggarakan Ring The Bell For Gender Equality (RTBFGE) 2026, Kamis (12/3), dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional 2026.
Mengusung tema “Kepemimpinan Perempuan untuk Ekonomi yang Adil dan Sejahtera”, kegiatan ini menyoroti kontribusi sektor swasta dan dunia usaha dalam mendorong kesetaraan gender sekaligus memperkuat fondasi ekonomi yang inklusif.
RTBFGE 2026 diselenggarakan oleh BEI bersama UN Women, UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), International Finance Corporation (IFC), dan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE). Acara ini merupakan bagian dari kampanye global RTBFGE, sebuah inisiatif bersama United Nations Sustainable Stock Exchange, UN Global Compact, UN Women, dan World Federation of Exchanges.
Dalam kampanye tahun ini, sekitar 114 bursa efek di 90 negara turut berpartisipasi. Kampanye tersebut menekankan peran pasar modal dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Meski terdapat kemajuan, kesenjangan gender di Indonesia masih terlihat, termasuk di pasar tenaga kerja dan kepemimpinan perusahaan. Pada 2025, tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan tercatat 56,7%, lebih rendah dibanding partisipasi laki-laki.
Di tingkat kepemimpinan, data Asia Market Monitor 2025 yang disusun oleh United Nations Sustainable Stock Exchanges Initiative, IFC, dan UN Women menunjukkan 49% firma di Indonesia masih memiliki jajaran direksi yang seluruhnya laki-laki, lebih tinggi dibanding rata-rata Asia sebesar 15%. Sementara itu, hanya 19% firma di Indonesia memiliki setidaknya 30% perempuan di jajaran direksi.
Temuan tersebut dinilai menunjukkan perlunya percepatan aksi untuk memperkuat keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan perusahaan, sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih inklusif dan resilien.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, dalam pidato kuncinya menekankan bahwa pesan yang ingin disampaikan melalui kegiatan ini melampaui seremoni. “Hari ini yang kita lakukan tidak hanya membunyikan bel. Hari ini, yang ingin kita lakukan adalah mengirimkan sebuah pesan yang harus didengar di setiap boardroom, oleh setiap investor, dan untuk setiap pengambil keputusan yang ada di ruang ini, maupun di luar, bahwa kepemimpinan perempuan adalah investasi yang akan membuat perusahaan lebih profitable, lebih baik, dan kompetitif,” ujarnya.
Direktur BEI, Risa Effenita Rustam, menyampaikan bahwa dorongan terhadap kepemimpinan perempuan tidak semata agenda kesetaraan. “Mendorong kepemimpinan perempuan bukan hanya sebuah agenda kesetaraan, tetapi juga sebuah investasi strategis bagi masa depan dunia usaha serta pembangunan ekonomi yang lebih adil dan Makmur,” katanya.
Dalam siaran pers BEI, disebutkan bahwa RTBFGE 2026 menampilkan sesi speed coaching yang bertujuan mendorong dialog menjadi langkah terukur. Lebih dari 100 peserta mengikuti diskusi dan pembelajaran sejawat dengan mentor dari kalangan eksekutif perusahaan dan pemimpin industri.
Fokus pembahasan meliputi pembangunan tempat kerja ramah keluarga, termasuk integrasi inisiatif dan kebijakan penitipan anak yang mendorong tanggung jawab perawatan bersama; penguatan jenjang karier dan jaringan internal untuk kepemimpinan perempuan; serta penanganan tantangan yang diidentifikasi melalui penelitian terbaru mengenai kepemimpinan perempuan di lingkungan perusahaan.
Sesi juga membahas penerapan perangkat praktis seperti Women’s Empowerment Principles Gender Gap Analysis Toolkit (WEPs GAT) dan Gender Equality Assessment, Results and Strategies (GEARS), serta upaya mengatasi kekerasan dan pelecehan di tempat kerja.
Perwakilan UN Women Indonesia sekaligus Liaison to ASEAN, Ulziisuren Jamsran, menekankan pentingnya partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam membangun ekonomi yang adil dan sejahtera. Ia menyoroti perlunya kebijakan yang mendukung kesetaraan di tempat kerja, pengakuan serta distribusi yang lebih setara atas pekerjaan perawatan tak berbayar, penguatan inklusi digital, serta transformasi norma sosial dan institusi. Menurutnya, langkah-langkah tersebut dapat membuka potensi penuh perempuan dan mempercepat kemajuan menuju kesetaraan gender.
Ulziisuren juga menyatakan bahwa pelaksanaan RTBFGE mengirimkan sinyal kuat atas komitmen sektor swasta, BUMN, dan sektor bisnis untuk mempercepat pemberdayaan perempuan dan mendorong ekonomi yang lebih inklusif.
Disebutkan pula bahwa pada 2025 UN Women bersama mitra strategis menginisiasi Asia-Pacific Sustainable Finance Lab untuk mendukung bursa efek di Asia dalam mempercepat komitmen terkait kesetaraan gender di pasar modal.
Setiap sesi dalam kegiatan RTBFGE 2026 diakhiri dengan peserta mengidentifikasi langkah konkret yang akan diambil di organisasi masing-masing, sebagai upaya memperkuat akuntabilitas dan memastikan capaian berkelanjutan.
Presiden UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), Y. W. Junardy, menyampaikan bahwa kesetaraan gender bukan hanya isu sosial, tetapi juga kebutuhan bisnis bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Melalui momentum RTBFGE yang digelar setiap tahun bersama BEI, UN Women, IBCWE, dan IFC, ia mendorong perusahaan di Indonesia mempercepat implementasi Women’s Empowerment Principles (WEPs) dan memastikan perempuan memperoleh kesempatan setara untuk memimpin, berinovasi, serta berkontribusi dalam pengambilan keputusan.
IBCWE menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan strategi terukur dalam mempercepat kepemimpinan perempuan di perusahaan. Direktur Eksekutif IBCWE, Wita Krisanti, menyatakan bahwa melalui GEARS, pihaknya mendukung perusahaan untuk mengidentifikasi kesenjangan gender, menyusun rencana aksi prioritas, dan memantau kemajuan implementasi kebijakan serta capaian kesetaraan gender secara berkala dan sistematis.
Ia juga menyebutkan bahwa sejak akhir tahun lalu IBCWE berkolaborasi dengan International Labour Organization (ILO) melalui RealGains Project untuk memperkuat lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan karier perempuan di sektor-sektor ekspor utama Indonesia.
RTBFGE diposisikan sebagai simbol komitmen perusahaan dalam memajukan kesetaraan gender dan mendorong penerapan Women’s Empowerment Principles di tempat kerja. Diinisiasi oleh UN Women dan UN Global Compact, WEPs menyediakan kerangka bagi perusahaan untuk mempromosikan kepemimpinan perempuan, kesempatan yang setara, serta praktik inklusif di tempat kerja, marketplace, dan komunitas.
Hingga kini, lebih dari 12.000 perusahaan di seluruh dunia telah menandatangani WEPs, termasuk 227 perusahaan dari Indonesia. Sejalan dengan agenda pembangunan di Indonesia, RTBFGE 2026 menegaskan kembali pesan bahwa investasi dalam pemberdayaan ekonomi dan kepemimpinan perempuan dipandang penting untuk mencapai ekonomi yang adil dan sejahtera bagi semua.

