BERITA TERKINI
BEI Catat Tujuh Perusahaan dalam Antrean IPO, Mayoritas Beraset Besar dan Didominasi Sektor Keuangan

BEI Catat Tujuh Perusahaan dalam Antrean IPO, Mayoritas Beraset Besar dan Didominasi Sektor Keuangan

JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat tujuh perusahaan yang masuk dalam antrean penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Dari jumlah tersebut, enam perusahaan tergolong beraset skala besar, sementara satu perusahaan lainnya masuk kategori beraset skala menengah.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, hingga saat ini terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Berdasarkan klasifikasi BEI, perusahaan beraset skala besar adalah entitas dengan total aset di atas Rp 250 miliar. Adapun perusahaan beraset skala menengah memiliki total aset berkisar Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

Nyoman menjelaskan, dari tujuh perusahaan yang merencanakan IPO tersebut, tiga perusahaan berasal dari sektor keuangan. Sementara itu, masing-masing satu perusahaan berasal dari sektor transportasi dan logistik, sektor barang konsumen primer, sektor energi, serta sektor kesehatan.

Namun, hingga 6 Maret 2026, BEI mencatat belum ada perusahaan yang merealisasikan IPO pada tahun ini. Dengan demikian, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia masih berjumlah 956 emiten per 6 Maret 2026, sama seperti posisi pada akhir 2025.

Di sisi lain, aktivitas penghimpunan dana melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) masih berlangsung. Hingga 6 Maret 2026, BEI mencatat terdapat 37 emisi dari 26 penerbit EBUS, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 41,41 triliun.

Pada periode yang sama, terdapat 20 emisi dari 13 penerbit EBUS yang masih berada dalam pipeline untuk menerbitkan instrumen tersebut.

Sementara itu, untuk aksi korporasi penambahan modal melalui rights issue atau penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), hingga 6 Maret 2026 tercatat tiga perusahaan telah melaksanakan HMETD dengan total nilai Rp 3,75 triliun.

Nyoman menambahkan, saat ini terdapat satu perusahaan yang berada dalam antrean rights issue, yang berasal dari sektor properti.