BERITA TERKINI
Han Feng Soroti Kelemahan Model Stablecoin dan Usulkan AiFi Berbasis Konsensus Bitcoin

Han Feng Soroti Kelemahan Model Stablecoin dan Usulkan AiFi Berbasis Konsensus Bitcoin

Han Feng, pendukung awal Bitcoin dan co-founder ELA, memaparkan pandangannya mengenai stablecoin, kecerdasan buatan (AI), serta arah tata ekonomi terdesentralisasi. Ia menilai model stablecoin yang dominan saat ini belum mampu menjadi tolok ukur nilai bagi ekonomi masa depan karena masih bertumpu pada kepercayaan terpusat atau aturan otomatis yang kaku.

Dalam pembahasannya, Han menyoroti dua jalur utama stablecoin. Pertama, stablecoin berjaminan fiat seperti USDT yang dinilainya tetap bergantung pada kredit penerbit. Menurut Han, aspek seperti keberadaan aset cadangan, cara penyimpanan, hingga pengelolaan risiko masih berada dalam “kotak hitam” yang sulit diverifikasi publik. Ia menyebut pendekatan ini pada dasarnya hanya memindahkan struktur kredit keuangan tradisional ke blockchain, bukan membangun tatanan keuangan baru.

Kedua, ia menyinggung model stablecoin on-chain dengan jaminan berlebih, seperti yang digunakan MakerDAO. Walau dianggap lebih maju dari sisi desentralisasi, Han menilai stabilitasnya bertumpu pada mekanisme likuidasi paksa yang dipicu kontrak pintar. Dalam situasi volatilitas ekstrem, mekanisme tersebut dapat merugikan pengguna dan berpotensi memperbesar risiko sistemik karena mengandalkan aturan kode yang pasti untuk menghadapi perilaku ekonomi yang kompleks dan tidak selalu dapat diprediksi.

Dari situ, Han melihat adanya paradoks: upaya membangun tatanan ekonomi terdesentralisasi justru masih bergantung pada kredit terpusat “dunia lama” atau dibatasi aturan otomatis yang tidak memiliki kemampuan penilaian. Ia menggambarkannya sebagai upaya menyelesaikan kebutuhan penyelesaian global di era digital dengan logika pencatatan yang sudah usang.

Han kemudian mengajukan pertanyaan tentang di mana “jangkar” kepercayaan seharusnya diletakkan. Ia menunjuk konsensus jaringan Bitcoin sebagai fondasi yang paling teruji untuk membangun sistem nilai global yang tahan sensor dan tidak bergantung pada otoritas terpusat. Menurutnya, kekuatan Bitcoin bukan terutama pada kapitalisasi pasar atau status historis, melainkan pada cara kerjanya: dipelihara komunitas global, aturan yang dapat diprediksi, serta jalur penerbitan yang tidak bisa diubah secara manual.

Namun, Han menilai tantangan berikutnya adalah membangun mekanisme sirkulasi nilai yang stabil dan mampu beradaptasi di atas fondasi konsensus tersebut. Untuk itu ia memperkenalkan konsep AiFi (keuangan yang didorong AI), yang disebutnya bukan berfokus pada memperbesar imbal hasil, melainkan membangun sistem nilai yang tangguh. Dalam kerangka ini, agen AI diharapkan dapat melakukan manajemen volatilitas secara berkelanjutan, termasuk melakukan lindung nilai dinamis, menyesuaikan alokasi aset pada kondisi likuiditas yang berbeda, serta memperbarui parameter sistem berdasarkan sinyal multidimensi guna menjaga stabilitas.

Han menekankan bahwa AI tidak dimaksudkan menggantikan konsensus terdesentralisasi, melainkan menjadi lapisan penyesuaian di atasnya agar sistem dapat beroperasi lebih adaptif dibanding sekadar menjalankan aturan statis. Ia menyebut gagasan tersebut tengah ia terapkan dalam verifikasi sistem stablecoin berbasis Bitcoin yang ia sebut sebagai BTCD.

Di luar aspek teknis, Han juga menyoroti tantangan “kilometer terakhir”, yakni bagaimana inovasi kripto dapat benar-benar dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hambatan utama bukan semata teknologi, melainkan “gravitasi nyata” berupa konsensus hukum, pelaksanaan institusi, dan kebiasaan pengguna. Ia menilai banyak inovasi yang awalnya ingin menghindari perantara tradisional pada akhirnya kembali terikat pada lembaga terpusat baru.

Dalam konteks implementasi, Han melihat Hong Kong sebagai lingkungan uji yang penting untuk sistem keuangan baru dan aturan kripto. Ia menilai Hong Kong memiliki posisi yang menghubungkan modal dan permintaan dari daratan Tiongkok dengan pasar Asia Tenggara dan global, sekaligus berada dalam sistem hukum yang matang dengan ruang regulasi yang dinilainya jelas dan dapat diuji coba. Bagi Han, Hong Kong lebih berperan sebagai “antarmuka” dan lapangan uji, tempat sistem baru diuji apakah benar-benar dapat digunakan, dipercaya, dan berjalan berkelanjutan.

Han juga menyampaikan pandangannya tentang posisi individu di tengah sistem yang makin kompleks. Ia menilai seiring infrastruktur membaik dan institusi masuk, ruang untuk meraih keuntungan dari ketimpangan informasi, kecepatan narasi, atau emosi jangka pendek akan semakin menyempit. Dalam situasi itu, ia menyarankan peserta biasa untuk bertahan pada investasi nilai dan pendekatan jangka panjang. Menurutnya, waktu menjadi dimensi yang dapat membantu individu menghadapi ketidakseimbangan informasi dan keunggulan modal.

Secara keseluruhan, Han merangkum arah pemikirannya: desentralisasi menjawab pertanyaan tentang sumber kepercayaan, sementara AI membantu menjawab bagaimana sistem bisa beroperasi cukup lama. Ia menilai keduanya perlu dipadukan agar tatanan ekonomi yang dibangun tidak mengulang kerapuhan keuangan tradisional.