Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan otoritas bursa masih mengkaji dampak kebijakan pemenuhan free float minimum 15 persen, terutama terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan saham di pasar. Menurutnya, pengetatan aturan tersebut perlu dikelola secara hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas perdagangan.
“Concern-nya adalah, bagaimana dengan suplainya? Nah, tentu ini harus kami manage dengan baik. Ya, kami sudah memikirkan dampak-dampak yang akan timbul,” kata Jeffrey dalam forum Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026 di Financial Hall, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Februari 2026.
Jeffrey memaparkan, dari total 956 perusahaan tercatat di BEI, sebanyak 268 emiten masih memiliki free float di bawah 15 persen. Namun, jika difokuskan pada 49 perusahaan dalam kelompok tersebut, nilainya disebut telah mewakili sekitar 90 persen kapitalisasi pasar. Ia menilai, pengaturan terhadap emiten-emiten besar itu akan sangat menentukan keseimbangan pasar secara keseluruhan.
Untuk mengantisipasi dampak dari peningkatan saham beredar di publik, BEI menyiapkan ruang diskusi dengan perusahaan tercatat guna mengatur waktu penambahan free float. Penyesuaian waktu itu, kata Jeffrey, dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar agar penambahan pasokan saham tidak menimbulkan tekanan berlebih dan tetap menjaga kestabilan harga.
Dari sisi permintaan, BEI mencermati pertumbuhan investor domestik yang dinilai cukup kuat. Jeffrey menyebut pertumbuhan aset investor ritel telah melampaui Rp 100 triliun. Selain itu, dukungan pemerintah terhadap institusi domestik untuk berinvestasi hingga 20 persen di pasar modal dipandang sebagai potensi tambahan permintaan yang dapat menyerap pasokan saham.
BEI juga berupaya menjaga kehadiran investor asing sekaligus menarik arus modal baru dari luar negeri. Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan penguatan basis investor domestik agar struktur permintaan di pasar lebih seimbang dan tidak bergantung pada satu kelompok investor.
Jeffrey menambahkan, otoritas bursa akan terus memantau respons pasar untuk memastikan proses pembentukan harga berjalan efisien. Ia menegaskan fokus pada kredibilitas, transparansi, serta mekanisme perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien agar stabilitas pasar tetap terjaga.
Adapun jumlah investor ritel saat ini disebut telah mencapai 21,3 juta orang, bertambah 1,3 juta investor baru sejak awal tahun. Sepanjang 2025, tercatat penambahan 5,4 juta investor. Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian sepanjang 2025 mencapai Rp 18,1 triliun, sementara sepanjang 2026 rata-rata nilai transaksi harian berada di posisi Rp 32 triliun.
Sekitar 52 persen transaksi harian tersebut berasal dari investor ritel, atau setara sekitar Rp 16 triliun per hari. Investor asing berkontribusi sekitar 30 persen, sedangkan sisanya berasal dari institusi domestik. Komposisi ini menunjukkan peran ritel yang semakin dominan dalam aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

