BERITA TERKINI
Kasus RLCO Soroti Celah Pengawasan: Free Float Publik 20% Disebut, Ritel Murni Terindikasi 4,6%

Kasus RLCO Soroti Celah Pengawasan: Free Float Publik 20% Disebut, Ritel Murni Terindikasi 4,6%

Kenaikan harga saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) menjadi sorotan setelah melesat dari harga IPO Rp168 pada Desember 2025 dan sempat menyentuh Rp8.700. Di balik lonjakan tersebut, RLCO dipandang sebagai studi kasus penting untuk menilai bagaimana ekosistem pasar modal memitigasi risiko asimetri informasi serta menguji ketahanan pengawasan otoritas bursa, terutama terkait definisi likuiditas dan struktur kepemilikan.

Salah satu titik perhatian muncul pada Januari 2026, ketika PT Samuel Sekuritas Indonesia—yang berperan sebagai penjamin emisi (underwriter) saat IPO—merilis riset inisiasi dengan target harga Rp80.000. Riset itu, antara lain, ditopang asumsi bahwa porsi saham publik RLCO cukup likuid di level 20,1%.

Untuk menilai asumsi tersebut, diperlukan persilangan data dari dua sumber pelaporan kepemilikan. Pertama, Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek dengan batas pelaporan 5% yang dirilis emiten, yang memetakan struktur kepemilikan formal serta batas free float administratif. Berdasarkan laporan ini, porsi saham dalam kategori “masyarakat” (publik) RLCO memang tercatat sekitar 20%.

Namun, analisis tidak berhenti pada lapisan administratif. Data kepemilikan saham scripless KSEI untuk kepemilikan di atas 1% (per 3 Maret 2026) dapat digunakan untuk melihat komposisi di dalam “keranjang” publik tersebut. Dengan menggabungkan kedua data, struktur pasokan saham dapat ditelaah lebih presisi untuk menilai apakah likuiditas yang terlihat merupakan kondisi riil atau hanya “ilusi suplai”.

Hasil sinkronisasi dua data itu menunjukkan bahwa dari sekitar 20% porsi publik pada pelaporan 5%, belasan persen di antaranya diisi oleh entitas institusional yang memecah kepemilikan pada rentang 1% hingga 4,99%—tepat di bawah ambang kewajiban pelaporan 5%. Setelah porsi institusi tersebut dikeluarkan, real retail free float atau saham ritel murni yang benar-benar beredar disebut hanya berada di kisaran 4,6%.

Secara keseluruhan, pasokan saham RLCO dilaporkan terkonsentrasi hingga 95,4% pada 11 entitas. Kondisi ini menempatkan isu konsentrasi kepemilikan sebagai faktor yang relevan dalam membaca volatilitas dan dinamika harga, karena jumlah saham yang benar-benar beredar di pasar ritel dinilai terbatas.

Temuan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai independensi instrumen riset pasar. Dari 11 entitas strategis pada data KSEI yang masing-masing berada di bawah 5% itu, tercatat PT Samuel Sekuritas Indonesia memiliki 2,81% serta entitas afiliasinya PT Samuel Tumbuh Bersama sebesar 2,39%.

Dalam konteks literatur keuangan korporasi, penerbitan proyeksi valuasi yang sangat tinggi oleh pihak yang memiliki keterkaitan kepemilikan, di tengah pasokan riil yang terbatas, dapat memunculkan risiko benturan kepentingan. Situasi ini mendorong perhatian terhadap kebutuhan mitigasi yang lebih transparan agar riset institusional tetap mengedepankan objektivitas dan tidak memicu anomali volatilitas yang berpotensi merugikan investor ritel.