Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan akan melakukan pembenahan menyeluruh di tengah gejolak pasar, menyusul evaluasi dari MSCI. Pelaksana tugas (Pjs.) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan situasi turbulensi menjadi momentum untuk mendorong reformasi struktural agar pasar menjadi lebih transparan dan lebih dalam.
Jeffrey menjelaskan, setelah publikasi MSCI pada 28 Januari yang memutuskan pembekuan serta membuka potensi penurunan status Indonesia, BEI telah menggelar serangkaian pertemuan lanjutan dengan MSCI pada awal Februari. Selain itu, BEI juga menyampaikan proposal perbaikan tidak hanya kepada MSCI, tetapi juga kepada FTSE Russell.
Menurut Jeffrey, terdapat empat langkah utama yang disiapkan BEI. Pertama, peningkatan keterbukaan melalui pengungkapan nama pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%. Kedua, penyajian data investor yang lebih rinci dengan memperluas klasifikasi dari sembilan tipe menjadi 28 sub-tipe, terutama untuk kategori korporasi dan kategori lainnya.
Ketiga, BEI mengusulkan penyesuaian ketentuan minimum free float dari 7,5% menjadi 15% dengan tujuan memperdalam pasar. Keempat, penerbitan daftar konsentrasi pemegang saham (shareholders concentration) untuk mengidentifikasi saham-saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi.
Terkait rencana kenaikan minimum free float menjadi 15%, Jeffrey menyebut masih ada 268 dari total 956 emiten yang berada di bawah ambang tersebut. Namun, sekitar 49 perusahaan disebut telah mewakili 90% kapitalisasi pasar dalam kelompok emiten yang free float-nya masih di bawah 15%.
BEI, kata Jeffrey, membuka ruang diskusi dengan emiten untuk mengatur waktu penambahan saham yang beredar di publik agar langkah tersebut tidak mengganggu stabilitas pasar.

