Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat tingkat inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 92,74%. Namun, tingkat literasi keuangan masyarakat masih berada di angka 66,46%.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan agar masyarakat dapat terhindar dari berbagai risiko kejahatan finansial, termasuk pinjaman online ilegal. Menurutnya, literasi keuangan dibutuhkan agar masyarakat tidak hanya mampu mengakses produk keuangan, tetapi juga memahami manfaat, risiko, serta perlindungan yang menyertainya.
“Tingkat inklusi keuangan nasional tercatat mencapai 92,74% dan perlu kita naikkan karena targetnya adalah 98% pada tahun 2045 sebagaimana dalam RPJMN 2025-2045. Masalahnya adalah meningkatkan inklusi keuangan dan ideanya diimbangi oleh peningkatan literasi keuangan,” ujar Perry dalam keynote speech acara Aksi KLIK (Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Kesejahteraan), dikutip Senin (9/3/2026).
Momentum Ramadan disebut konsisten mendorong peningkatan aktivitas ekonomi dan transaksi keuangan digital masyarakat. Di tengah pertumbuhan tersebut, risiko kejahatan keuangan dan berbagai modus penipuan (financial scam) juga dinilai menunjukkan tren peningkatan, dengan pola yang semakin adaptif dan terstruktur.
Perkembangan ini menjadi tantangan bagi stabilitas ekosistem keuangan, perlindungan konsumen, serta keberlanjutan kepercayaan publik terhadap layanan keuangan formal. Dalam konteks transformasi digital sektor keuangan yang terus berkembang, penguatan ketahanan sistem tidak hanya bergantung pada aspek pengawasan dan teknologi, tetapi juga pada peningkatan literasi dan kewaspadaan masyarakat sebagai garis pertahanan pertama.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif melalui penguatan kebijakan, koordinasi lintas sektor, serta sinergi antara regulator, industri jasa keuangan, penyedia layanan digital, dan pemangku kepentingan terkait. Ruang dialog strategis juga dinilai penting untuk menyelaraskan arah kebijakan, strategi edukasi publik, mekanisme pencegahan, serta respons terhadap dinamika ancaman penipuan yang terus berkembang, terutama pada periode dengan intensitas transaksi tinggi seperti menjelang Ramadan.
Dalam rangka mendorong kolaborasi tersebut, CNBC Indonesia akan menghadirkan Financial Literacy Talks sebagai forum yang mempertemukan regulator dan pelaku industri untuk membahas penguatan literasi finansial dan perlindungan konsumen di era digital. Forum ini mengusung tema Strengthening Financial Literacy for a Secure Digital Economy.
Melalui forum tersebut, diharapkan tercipta sinergi kebijakan dan implementasi di tingkat ekosistem, mendorong inisiatif edukasi yang lebih efektif dan terintegrasi, serta mendukung terbentuknya sistem keuangan digital yang aman, inklusif, dan berdaya tahan guna menjaga stabilitas sektor keuangan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat secara berkelanjutan.

