Konflik di kawasan Asia Barat saat ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kekuatan militer dan perebutan pengaruh, tetapi juga menguji ketahanan finansial negara-negara yang terlibat. Di balik sorotan pada serangan rudal dan kerusakan fisik, perang modern memperlihatkan sisi lain yang lebih sunyi namun menentukan: neraca ekonomi dan kemampuan membiayai operasi militer dalam jangka panjang.
Perang digambarkan telah berubah menjadi “mesin pembakar modal” dalam skala besar. Setiap detik operasi berarti biaya yang terus bertambah, mulai dari logistik, bahan bakar, gaji personel, hingga penggunaan persenjataan presisi tinggi. Dalam konteks ini, pertarungan tidak lagi semata soal daya tembak, melainkan juga soal siapa yang memiliki “napas finansial” paling panjang.
Amerika Serikat, yang secara historis memiliki anggaran militer terbesar di dunia, disebut menghadapi pengeluaran harian mendekati 900 juta dolar AS. Angka itu merepresentasikan biaya operasional yang luas, dari pengerahan pasukan hingga penggunaan sistem persenjataan yang mahal.
Israel, sebagai aktor yang berada di garis depan, juga menanggung beban besar. Biaya perang diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS per minggu. Dampaknya, modal yang dalam kondisi normal dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur atau layanan publik, terserap untuk pembiayaan mesin perang dan kebutuhan pertahanan.
Salah satu ilustrasi paling nyata dari mahalnya perang modern terlihat pada pencegatan udara. Dalam hitungan detik, proses menetralkan satu ancaman dapat menghabiskan jutaan dolar. Biaya perangkat keras menjadi komponen yang menonjol, terutama ketika serangan terjadi berulang dan dalam skala besar.
Sejumlah angka biaya persenjataan yang disebut antara lain: satu rudal jelajah Tomahawk sekitar 2 juta dolar AS per unit. Untuk pertahanan, rudal pencegat Patriot disebut memerlukan biaya sekitar 3–4 juta dolar AS setiap peluncuran. Sementara itu, sistem pertahanan tingkat tinggi THAAD diperkirakan sekitar 12 juta dolar AS untuk satu rudal pencegat.
Ketika serangan besar-besaran terjadi—dengan lusinan hingga ratusan rudal dalam satu malam—total pengeluaran dapat melampaui ratusan juta dolar hanya dalam beberapa jam. Dalam 100 jam pertama konflik ini, tagihan yang harus ditanggung pihak-pihak terkait disebut telah menembus 3,7 miliar dolar AS. Meski demikian, Washington menyatakan keyakinan bahwa mereka memiliki cadangan yang cukup untuk melanjutkan operasi militer.
Optimisme itu juga didasarkan pada anggapan bahwa Iran melakukan kesalahan perhitungan apabila mengira stok amunisi dan kemampuan finansial Amerika Serikat akan segera habis. Amerika menilai ketersediaan persenjataan defensif dan ofensif yang melimpah memungkinkan mereka mempertahankan intensitas kampanye militer selama diperlukan.
Skala pengerahan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut turut mencerminkan besarnya komitmen biaya. Disebutkan terdapat lebih dari 50 ribu tentara, sekitar 200 jet tempur, serta dukungan dua gugus tugas kapal induk. Pasukan gabungan Amerika dan Israel juga tercatat melakukan serangan terhadap hampir 2.000 target di wilayah Iran, operasi yang menuntut koordinasi intelijen dan logistik berbiaya tinggi.
Di sisi Israel, tantangan utama bukan hanya menyerang, melainkan mempertahankan wilayah dari serangan proyektil secara berkelanjutan. Pada fase awal perang, Iran disebut meluncurkan lebih dari 200 rudal balistik. Meski pertahanan Israel dinilai efektif menahan sebagian besar ancaman, serangan bertubi-tubi dengan volume tinggi dipandang sebagai strategi untuk menguras persediaan sistem pertahanan lawan.
Dari sudut pandang Teheran, strategi yang menonjol adalah ketergantungan pada rudal balistik dan drone. Diperkirakan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone telah diluncurkan sebagai balasan. Keunggulan pendekatan ini, menurut paparan tersebut, terletak pada penggunaan drone yang relatif lebih murah untuk diproduksi, sehingga dapat memaksa pihak lawan menghabiskan rudal pencegat yang harganya jauh lebih mahal.
Namun, kemampuan Iran juga disebut tidak tanpa batas. Di tengah tekanan sanksi internasional yang telah lama menekan ekonomi nasionalnya, Iran harus melakukan perhitungan ketat. Serangan balasan yang menargetkan situs peluncuran, gudang senjata, dan fasilitas manufaktur di dalam negeri Iran juga dinilai dapat mengancam kemampuan produksi senjata baru untuk mempertahankan ritme serangan.
Gambaran yang muncul adalah perang atrisi—perang urat syaraf—di mana setiap peluncuran rudal berarti berkurangnya cadangan nasional, dan setiap pencegatan menjadi beban tambahan bagi kas negara. Pertanyaan yang mengemuka bukan hanya siapa unggul di medan tempur, tetapi siapa yang mampu bertahan menghadapi “pendarahan ekonomi” yang terus berlangsung. Dalam kerangka ini, kehancuran finansial dipandang bisa menjadi penentu akhir konflik, bahkan sebelum pertempuran benar-benar usai.
Di bagian akhir, tulisan juga menyinggung refleksi historis bahwa kekuasaan besar tidak selalu runtuh karena kekalahan militer terbuka, melainkan karena ketidakmampuan membiayai ambisi. Narasi kemudian bergeser ke pembahasan lebih umum tentang perubahan arah sejarah yang kerap dipicu kekerasan politik, termasuk pembunuhan tokoh kunci yang membawa konsekuensi luas terhadap pemerintahan dan tatanan dunia.

