Kenaikan harga Bitcoin ke level tertinggi dalam sebulan di sekitar US$74.000 pada pekan ini memicu gelombang aksi ambil untung dari trader jangka pendek. Temuan tersebut mengacu pada data CryptoQuant yang mencatat peningkatan perpindahan koin ke bursa setelah lonjakan harga.
Setelah sempat menembus US$70.000 pada Rabu, cryptocurrency terbesar itu kehilangan momentum dan diperdagangkan di kisaran US$69.000.
Analis CryptoQuant, Darkfost, menyebut para pemegang jangka pendek memindahkan lebih dari 27.000 BTC ke bursa dalam 24 jam terakhir, dengan nilai sekitar US$1,8 miliar. Perpindahan ini terjadi saat posisi mereka berada dalam kondisi untung dan disebut sebagai salah satu lonjakan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Darkfost, investor jangka pendek yang saat ini masih mencatat keuntungan terutama adalah mereka yang mengakumulasi Bitcoin antara satu minggu hingga satu bulan sebelumnya, dengan harga realisasi sekitar US$68.000. Kondisi ini mengindikasikan sebagian pembeli baru-baru ini memilih mengunci keuntungan ketimbang mempertahankan posisi lebih lama.
Pemegang jangka pendek umumnya menjadi kelompok yang paling reaktif terhadap perubahan pasar. Aksi jual mereka dinilai mencerminkan kewaspadaan yang berlanjut terkait perang yang sedang berlangsung di Iran.
Analisis CoinDesk pada Rabu juga menyoroti potensi jebakan bullish, dengan pola pergerakan harga yang disebut mirip dengan situasi pada Januari ketika harga sempat melonjak ke US$98.000 sebelum berbalik turun.
Penurunan kemudian terjadi pada Jumat dan disebut makin cepat setelah komentar Presiden AS Donald Trump yang menuntut Iran menyerah tanpa syarat. Perkembangan tersebut juga dilaporkan mendorong kenaikan harga minyak.
Meski terjadi aksi ambil untung, Adrian Fritz, kepala strategis investasi di 21Shares, menilai faktor-faktor yang lebih luas tetap membantu menopang reli Bitcoin.

