PT BNI Sekuritas menilai pasar obligasi domestik masih memiliki prospek positif pada 2026, meski pasar keuangan berfluktuasi pada awal tahun. Penilaian ini didukung oleh proyeksi penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta arah kebijakan suku bunga yang diperkirakan cenderung lebih longgar.
Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Amir Dalimunthe, menyampaikan Indonesia Composite Bond Index berpeluang mencatatkan total return sekitar 7–8 persen pada 2026. Ia juga memperkirakan imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun ke kisaran rata-rata 6,2 persen dan berpotensi mengarah ke 5,8 persen pada akhir tahun.
“Seiring dengan kebijakan suku bunga yang lebih akomodatif dan perkembangan kondisi makroekonomi global maupun domestik,” kata Amir dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2026.
Menurut Amir, potensi penurunan imbal hasil menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik obligasi pemerintah, terutama bagi investor yang mengutamakan stabilitas imbal hasil di tengah ketidakpastian pasar. Ia menilai pergerakan pasar obligasi cenderung lebih defensif dibandingkan instrumen berisiko tinggi pada fase awal 2026.
BNI Sekuritas juga mencatat, bagi investor dengan horizon jangka pendek, reksa dana pasar uang masih relevan karena menawarkan likuiditas tinggi. Instrumen ini dinilai relatif lebih stabil dibandingkan saham, meski imbal hasilnya tetap dipengaruhi dinamika suku bunga dan likuiditas perbankan.
Di tengah meningkatnya jumlah investor pasar modal, BNI Sekuritas menilai kebutuhan akan strategi investasi yang terukur semakin penting. Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, jumlah investor pasar modal telah mencapai 21 juta orang pada awal 2026, namun pertumbuhan tersebut dinilai tidak selalu diiringi kesiapan menghadapi volatilitas pasar.

