Bursa saham Asia membuka perdagangan pada Jumat pagi, 13 Februari 2026, dalam tekanan lanjutan setelah pelemahan lebih dulu terjadi di Wall Street dan bursa utama Eropa. Sentimen global kembali memburuk seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat yang memicu aksi jual di sejumlah sektor.
Di Australia, indeks ASX 200 langsung terkoreksi 1,02 persen saat pembukaan dan memperdalam penurunan menjadi 1,29 persen atau turun 116,50 poin ke level 8.927 pada pukul 08.20 WIB. Tekanan ini mencerminkan respons cepat investor terhadap penurunan saham-saham teknologi dan sektor siklikal di AS, dengan sentimen risk-off terlihat dominan menjelang akhir pekan panjang di beberapa negara Asia.
Di Korea Selatan, pergerakan pasar sempat beragam. Indeks Kospi dibuka menguat 0,35 persen, namun berbalik melemah 0,41 persen ke 5.499,76. Sementara itu, Kosdaq yang lebih sensitif terhadap saham pertumbuhan langsung terkoreksi 1,36 persen. Pelemahan ini mengindikasikan tekanan pada saham berbasis inovasi dan teknologi, di tengah pasar yang masih mencari keseimbangan akibat ketidakpastian arah sektor AI global.
Tekanan juga terlihat di Jepang. Nikkei 225 merosot 0,97 persen atau turun 560,46 poin ke 57.079,38 setelah dibuka melemah 0,58 persen. Indeks Topix turut turun 0,58 persen. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan yen yang cenderung membebani saham eksportir, sekaligus menunjukkan sikap hati-hati investor terhadap prospek pertumbuhan global.
Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di level 26.703, lebih rendah dibanding penutupan terakhir di 27.032,54. Sementara itu, Taiwan tidak bertransaksi karena libur Tahun Baru Imlek. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar Asia kehilangan salah satu referensi utama dari sektor semikonduktor yang terkait erat dengan rantai pasok AI global.
Tekanan di pasar global disebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa peluncuran alat AI terbaru di Amerika Serikat berpotensi mengganggu model bisnis konvensional dan menekan margin di berbagai sektor. Saham perusahaan truk dan logistik terkoreksi karena kekhawatiran efisiensi berbasis AI dapat mengurangi kebutuhan jasa pengiriman. Saham properti komersial dan sektor keuangan juga melemah, memperpanjang tren negatif dua hari terakhir.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menghadapi tekanan terbatas menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,31 persen ke 8.265,35. Di sisi lain, iShares MSCI Indonesia ETF di New York tercatat turun 1,05 persen ke USD17,89, mencerminkan sentimen eksternal yang kurang kondusif terhadap aset Indonesia.
Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA5 dan MA200, meski gagal mempertahankan level 8.300. Support terdekat berada di area 8.200 dengan resistance di kisaran 8.300. Struktur pergerakan ini mengindikasikan ruang gerak yang cenderung terbatas dan berpotensi sideways, di tengah aksi ambil untung serta kehati-hatian investor menjelang periode libur panjang.
Pembukaan bursa Asia pada pagi ini menegaskan sentimen global masih menjadi faktor dominan. Kekhawatiran terhadap disrupsi AI, pelemahan bursa AS, serta minimnya katalis positif jangka pendek membentuk pola perdagangan defensif dengan volatilitas yang tetap tinggi di sejumlah kawasan.

