BERITA TERKINI
Bursa Asia Kompak Merosot, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Dampak Konflik Timur Tengah

Bursa Asia Kompak Merosot, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Dampak Konflik Timur Tengah

Tekanan di pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah indeks utama di kawasan Asia kompak melemah pada perdagangan Senin (9/3) seiring lonjakan tajam harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak perang di Timur Tengah.

Data pasar menunjukkan indeks-indeks utama bergerak di zona merah. Di Australia, ASX 200 turun 3,29 persen ke level 8.559, sementara ASX 300 melemah 3,26 persen ke posisi 8.503. Di Selandia Baru, indeks NZX 50 turun 3,21 persen.

Di Asia Timur, Shanghai Composite di China melemah sekitar 1,13 persen dan CSI 300 turun sekitar 1,65 persen. Bursa Hong Kong juga tertekan, dengan Hang Seng anjlok sekitar 2,54 persen dan indeks HS China Enterprises turun 1,80 persen.

Tekanan turut terlihat di Asia Selatan. Indeks Nifty India turun 2,94 persen dan Sensex melemah hampir 3 persen. Di Jepang, Nikkei 225 mencatat penurunan paling tajam di kawasan dengan pelemahan sekitar 6,92 persen.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terdampak. Pada awal perdagangan Senin pagi, IHSG sempat anjlok 5,41 persen atau turun 410,73 poin ke level 7.174. Berdasarkan data RTI Business pukul 09.10 WIB, indeks dibuka di posisi 7.374 sebelum langsung tertekan oleh aksi jual investor.

Pelemahan serentak di berbagai bursa terjadi setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga sekitar US$119 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) naik hingga sekitar US$118 per barel. Lonjakan tersebut disebut menjadi salah satu kenaikan harian terbesar sejak akhir 1980-an.

Kenaikan harga energi dipicu keputusan sejumlah produsen minyak di Timur Tengah seperti Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab yang memangkas produksi setelah penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, salah satu rute utama perdagangan energi global.

Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi akan membebani perekonomian global, mendorong inflasi, serta menekan konsumsi dan aktivitas bisnis.

Di Jepang, tekanan pada pasar saham juga diperparah oleh penurunan saham-saham teknologi besar. SoftBank Group dilaporkan turun lebih dari 11 persen, sementara saham sektor chip seperti Advantest dan Lasertec turut melemah tajam.

Korea Selatan bahkan sempat menghentikan perdagangan saham sementara setelah indeks Kospi anjlok lebih dari 8 persen dan memicu mekanisme circuit breaker sekitar 20 menit.

Analis menilai tekanan pasar saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen ketidakpastian global. Manajer portofolio Franklin Templeton, Nicholas Chui, menggambarkan pergerakan pasar Asia saat ini dipenuhi kekhawatiran investor.

“Jika melihat pergerakan harga di Asia, satu kata yang menggambarkannya adalah ketakutan. Investor saat ini tidak ingin terlalu terlibat di pasar,” ujarnya.

Lonjakan harga energi dan risiko perang yang berkepanjangan membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham. Tekanan juga mulai merembet ke pasar global, dengan kontrak berjangka indeks saham AS ikut melemah. Dow Jones futures turun lebih dari 800 poin, sementara S&P 500 futures dan Nasdaq-100 futures masing-masing turun sekitar 1,5 persen.