BERITA TERKINI
Bursa Asia Melemah di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Bursa Asia Melemah di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen negatif mendominasi sejak pembukaan, mencerminkan kekhawatiran investor atas eskalasi konflik dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.

Tekanan pasar disebut menguat setelah muncul seruan untuk menutup Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang berada di antara Iran dan Oman. Selat ini merupakan salah satu titik sempit perdagangan paling vital di dunia dan dilalui sekitar sepertiga dari seluruh perdagangan minyak laut global. Ancaman penutupan memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi, yang kemudian merambat ke pasar saham kawasan.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent dan WTI dilaporkan melonjak tajam, mencerminkan ketakutan pelaku pasar terhadap terganggunya pasokan global serta potensi kenaikan inflasi energi. Situasi tersebut meningkatkan sensitivitas investor terhadap setiap perkembangan terbaru dari kawasan Timur Tengah.

Ketidakpastian juga bertambah dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam dinamika konflik regional. Pelaku pasar menilai adanya risiko ketegangan berkembang menjadi konflik yang lebih luas, termasuk kemungkinan eskalasi militer dan intervensi internasional, yang dapat memperburuk prospek ekonomi dan pasar keuangan global.

Di sisi lain, pasar turut mempertimbangkan dampak terhadap rantai pasok global yang dinilai masih rapuh pascapandemi COVID-19. Sektor yang bergantung pada logistik maritim dan energi murah, seperti manufaktur, transportasi, dan konsumer diskresioner, menjadi sorotan kekhawatiran. Sementara itu, sektor defensif seperti utilitas dan consumer staples disebut menunjukkan kinerja relatif lebih baik, sejalan dengan pergeseran preferensi investor ke aset yang dinilai lebih aman.

Sejumlah bank investasi besar juga dikabarkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan menaikkan estimasi inflasi dengan mengutip risiko geopolitik sebagai faktor utama. Investor institusional dilaporkan meningkatkan alokasi ke aset safe haven, termasuk emas, obligasi pemerintah jangka panjang, dan franc Swiss.

Pengamat pasar menilai resolusi diplomatik menjadi kunci untuk meredakan ketegangan dan memulihkan kepercayaan investor. Di tengah volatilitas yang meningkat, bank sentral dan regulator pasar di sejumlah negara disebut bersiaga untuk melakukan intervensi apabila gejolak dinilai berpotensi mengancam stabilitas sistem keuangan.