BERITA TERKINI
Bursa Asia Menguat Usai Guncangan Perang Iran, Namun Kenaikan Harga Minyak Kembali Bayangi Pasar

Bursa Asia Menguat Usai Guncangan Perang Iran, Namun Kenaikan Harga Minyak Kembali Bayangi Pasar

Pasar saham Asia berupaya pulih setelah guncangan akibat perang Iran menggoyang sentimen global. Sejumlah bursa utama di kawasan menguat pada perdagangan Kamis pagi, mengikuti rebound Wall Street. Meski demikian, optimisme pasar belum sepenuhnya stabil karena harga minyak kembali naik, sementara kontrak berjangka saham Amerika justru melemah.

Penguatan paling tajam terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak 10,1% ke level 5.607,71, sehari setelah mencatat penurunan terbesar dalam sejarahnya. Pemerintah Korea Selatan mengumumkan langkah darurat ekonomi untuk menenangkan pasar.

Penurunan tajam pada sesi sebelumnya disebut dipicu aksi ambil untung investor. Dalam beberapa bulan terakhir, Kospi sempat melesat ke rekor tertinggi. Ketika perang Iran pecah, sebagian pelaku pasar memilih mengunci keuntungan sebelum risiko geopolitik membesar.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga menguat meski sempat memangkas sebagian kenaikan awal. Nikkei tetap naik 2,8% ke posisi 55.793,74.

Sentimen positif turut terlihat di bursa lain. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1% ke 8.913,10, sementara bursa Selandia Baru menguat 0,5%. Indeks utama Taiwan bertambah 2,2%.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 148,02 poin atau 1,95% ke level 7.725,08. Total volume transaksi tercatat 123,85 juta lot dengan nilai perdagangan Rp6,45 triliun dari 761,04 ribu transaksi.

Meski pasar saham mencoba bangkit, ketidakpastian perang di Timur Tengah masih membayangi. Dalam beberapa hari terakhir, arah pasar global banyak dipengaruhi pergerakan harga minyak. Wall Street sempat menguat setelah harga minyak berhenti melonjak dan laporan ekonomi AS menunjukkan sinyal positif.

Indeks S&P 500 naik 0,8% ke 6.869,50 dan menghapus sebagian besar kerugian sejak konflik Iran dimulai. Dow Jones Industrial Average bertambah 0,5% ke 48.739,41, sementara Nasdaq melonjak 1,3% ke 22.807,48. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama karena harga minyak kembali merangkak naik pada awal perdagangan Kamis.

Minyak Brent naik 2,6% menjadi USD83,51 per barel atau sekitar Rp1.407.144. Sementara minyak mentah acuan Amerika naik 3,2% ke USD77,01 per barel atau sekitar Rp1.297.619.

Kenaikan harga energi ini membuat investor kembali waspada. Lonjakan minyak berpotensi memicu inflasi baru sekaligus menekan laba perusahaan global.

Di tengah ketegangan geopolitik, sejumlah data ekonomi Amerika memberikan kabar yang lebih positif bagi pasar. Salah satu laporan menunjukkan aktivitas bisnis di sektor jasa, seperti real estate dan keuangan, tumbuh pada bulan lalu dengan laju tercepat sejak musim panas 2022. Laporan itu juga mencatat kenaikan harga di sektor jasa mulai melambat sebelum konflik Iran pecah.

Laporan lain menyebut perusahaan-perusahaan swasta di luar sektor pemerintah meningkatkan perekrutan tenaga kerja bulan lalu. Data tersebut menumbuhkan harapan terhadap laporan resmi pasar tenaga kerja AS yang dijadwalkan dirilis pemerintah pada Jumat.

Bagi Federal Reserve, perkembangan itu menjadi sinyal yang dinilai positif karena bank sentral AS berupaya menjaga pasar tenaga kerja tetap kuat sekaligus menekan inflasi. Namun, lonjakan harga minyak akibat perang dinilai dapat membuat upaya tersebut semakin menantang.