BERITA TERKINI
Bursa Asia Tertekan: Nikkei dan Kospi Jatuh Lebih dari 6% Saat Harga Minyak Tembus USD 100 per Barel

Bursa Asia Tertekan: Nikkei dan Kospi Jatuh Lebih dari 6% Saat Harga Minyak Tembus USD 100 per Barel

Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Aksi jual menekan sejumlah indeks utama di kawasan Asia Pasifik, dengan indeks Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan memimpin penurunan setelah harga minyak dunia menembus USD 100 per barel untuk pertama kali sejak 2022.

Di Jepang, Nikkei 225 turun 6,05% dan jatuh ke bawah level 53.000 untuk pertama kali sejak 6 Februari. Indeks Topix turut melemah 5,27%. Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami koreksi tajam, termasuk Softbank Group Corp yang turun hampir 10%. Saham-saham terkait chip juga tertekan, dengan Advantest turun lebih dari 10% dan Lasertec merosot lebih dari 9%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 6,5% dan memicu penghentian sementara perdagangan untuk kontrak berjangka Kospi 200. Penghentian sementara ini juga sempat diaktifkan pada pekan sebelumnya saat indeks acuan tersebut anjlok lebih dari 12% pada Rabu, yang menjadi penurunan satu hari terburuknya. Pada perdagangan Senin, saham Samsung Electronics turun 8,4%, sedangkan saham perusahaan chip SK Hynix melemah 9,2%.

Pelemahan juga terjadi di Australia. Indeks S&P/ASX 200 turun 3,68% pada perdagangan awal. Di saat yang sama, harga minyak melesat: Brent berjangka naik 16,1% menjadi USD 107,61 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka naik hampir 17,7% menjadi USD 107,02 per barel.

Kenaikan tajam harga minyak dikaitkan dengan langkah produsen minyak utama di Timur Tengah, termasuk Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab, yang memangkas produksi menyusul penutupan Selat Hormuz. Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di Truth Social bahwa kenaikan “harga minyak jangka pendek” adalah “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi menghancurkan ancaman nuklir Iran. “Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya,” tulisnya.

Pergerakan bursa Asia juga tercermin pada indikasi pembukaan pasar Hong Kong. Kontrak berjangka Indeks Hang Seng berada di 25.328, lebih rendah dibanding penutupan terakhir indeks di 25.757,29.

Tekanan turut merembet ke pasar global lainnya. Kontrak berjangka saham AS melemah seiring lonjakan harga minyak, dengan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 800 poin atau 1,75%. Kontrak berjangka S&P 500 turun 1,59%, sementara kontrak berjangka Nasdaq-100 merosot 1,6%.

Sebelumnya, pasar saham Indonesia juga berada dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Jumat, 6 Maret 2026, turun 124,85 poin atau 1,62% ke posisi 7.585,68. Indeks LQ45 ikut turun 11,77 poin atau 1,49% ke 776,04. Tekanan disebut terkait meningkatnya sikap risk-off investor di tengah konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah.

Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyebut investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi. Menurutnya, investor melikuidasi saham berkapitalisasi besar dan merotasi ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS. Ia juga menyoroti ketidakpastian geopolitik serta kondisi pasar keuangan Amerika Serikat, termasuk kenaikan yield US Treasury yang memicu kekhawatiran bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama.

Pelaku pasar global, menurut Wafi, juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari AS, termasuk inflasi konsumen (CPI) dan data tenaga kerja non-farm payroll (NFP), yang dinilai dapat memberi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed. Dari dalam negeri, sentimen juga dipengaruhi oleh keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, yang disebut memicu pelemahan rupiah dan meningkatkan arus keluar dana asing. Pasar juga menanti rilis data cadangan devisa Indonesia serta langkah kebijakan Bank Indonesia, dengan perkiraan BI berpotensi menaikkan BI Rate untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan menahan tekanan pasar.