Bursa saham Hong Kong dan China melemah di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko perang yang melibatkan Iran. Sentimen tersebut menekan selera risiko investor dan memicu kewaspadaan di pasar Asia.
Di saat bersamaan, perhatian pelaku pasar global juga tertuju pada potensi perubahan arus modal. Jepang dilaporkan mendorong dana pensiun untuk memulangkan investasi ke dalam negeri, sebuah langkah yang dinilai dapat memicu arus modal berbalik dan menambah ketidakpastian di pasar internasional.
Dari sisi geopolitik, Badan Pelayaran PBB menyerukan negara-negara untuk menolak upaya Iran mengendalikan Selat Hormuz. Isu ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan memperburuk kekhawatiran investor.
Sementara itu, tekanan terhadap aset berisiko juga tercermin dari arus dana asing yang meninggalkan saham negara berkembang. Arus keluar tercatat mencapai US$ 46 miliar, menandakan investor cenderung mengambil posisi lebih defensif.
Di pasar komoditas, harga emas tertekan. Konflik di Timur Tengah disebut memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, yang turut memengaruhi pergerakan harga emas.
Di luar isu pasar, China utara dilaporkan bersiaga menghadapi hujan lebat dan ancaman banjir seiring mendekatnya Badai Bavi. Perkembangan cuaca ekstrem ini menjadi perhatian tersendiri di kawasan.
Adapun dari Amerika Serikat, Wall Street bergerak stabil dengan investor menanti debut SK Hynix di Nasdaq. Di ranah politik, Presiden Donald Trump dilaporkan menolak menandatangani RUU perumahan bipartisan.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin usaha penilai kerugian asuransi kepada PT MCO Adjuster Indonesia setelah perusahaan melakukan perubahan nama.

