BERITA TERKINI
China di Pusat Ekonomi Global: Antara Mesin Pertumbuhan dan Sumber Risiko

China di Pusat Ekonomi Global: Antara Mesin Pertumbuhan dan Sumber Risiko

Sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001, China mencatat lonjakan pertumbuhan yang mengubah peta ekonomi internasional. Negara ini kemudian dikenal sebagai “pabrik dunia” berkat kemampuan memproduksi barang dalam skala besar dengan biaya kompetitif, mulai dari elektronik, tekstil, dan baja hingga komponen teknologi tinggi yang terhubung erat dengan rantai pasok global.

Transformasi tersebut berlangsung seiring arah kebijakan industri yang kuat, pembangunan infrastruktur, dan pembukaan ruang bagi investasi asing. Dalam kurun waktu relatif singkat, posisi China di ekonomi global melonjak dan menempatkannya sebagai ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Pengaruh China juga meluas melalui Belt and Road Initiative (BRI), yang mendorong pembangunan pelabuhan, rel kereta, serta proyek energi di berbagai kawasan. Langkah ini mempertegas peran China bukan hanya sebagai produsen, tetapi juga investor dan pemberi pinjaman internasional.

Namun, sentralitas China dalam ekonomi dunia membawa konsekuensi. Ketika pandemi COVID-19 menghambat aktivitas industri di China, dampaknya segera terasa secara global. Gangguan rantai pasok memicu kelangkaan semikonduktor, kenaikan biaya logistik, dan perlambatan produksi di banyak negara, menunjukkan tingginya ketergantungan dunia pada pusat produksi tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Barat mulai mengusung pendekatan “de-risking”, yakni upaya mengurangi risiko ketergantungan berlebihan pada satu negara tanpa memutus hubungan ekonomi. Diversifikasi rantai pasok pun mulai diarahkan ke kawasan lain seperti Asia Tenggara, India, hingga Amerika Latin.

Dari sisi domestik, China menghadapi sejumlah tantangan yang menjadi perhatian internasional, termasuk krisis sektor properti, meningkatnya utang pemerintah daerah, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan yang sebelumnya sempat berada di level dua digit kini melambat secara signifikan.

Dampak perlambatan tersebut tidak berhenti di dalam negeri. Negara-negara pengekspor bahan mentah, termasuk Indonesia, dinilai bergantung pada permintaan China. Ketika konsumsi dan aktivitas industri China melemah, tekanan dapat merembet ke harga komoditas global.

Di luar faktor ekonomi jangka pendek, demografi juga menjadi tantangan jangka panjang. Populasi yang menua dan menurunnya angka kelahiran berpotensi menekan produktivitas tenaga kerja. Dalam konteks keterhubungan ekonomi global, isu ini dipandang bukan semata persoalan domestik, melainkan faktor yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Sementara itu, posisi China di pusat ekonomi global juga terkait erat dengan dinamika geopolitik. Persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat semakin intens, terutama di sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan. Pembatasan ekspor chip dan sanksi teknologi memperlihatkan bagaimana kebijakan ekonomi dan politik kian saling terkait.

Tanda-tanda fragmentasi ekonomi global pun muncul ketika negara-negara berupaya menyeimbangkan hubungan dengan dua kekuatan besar tersebut. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, situasi ini memunculkan dilema: China merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi penting, tetapi ketergantungan yang terlalu besar juga dapat meningkatkan kerentanan ekonomi nasional.

Pada akhirnya, posisi China dapat dilihat sebagai kekuatan sekaligus titik rapuh. China menjadi kekuatan karena kapasitas industrinya, cadangan devisa, serta kemampuan mengoordinasikan kebijakan secara cepat. Namun, justru karena perannya yang sangat sentral, China juga menjadi titik konsentrasi risiko. Perlambatan atau krisis domestik berpotensi memicu efek domino ke berbagai negara dan sektor.

Ke depan, stabilitas China akan sangat memengaruhi arah pertumbuhan ekonomi dunia. Dunia mungkin tidak sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada China, tetapi dapat membangun sistem yang lebih seimbang dan resilien. Dalam sistem ekonomi yang saling terhubung, pusat gravitasi ekonomi bukan hanya simbol kekuatan, melainkan juga tempat risiko terkumpul.