Iran dinilai menerapkan strategi yang melampaui kalkulasi militer konvensional dalam konflik yang berlangsung di kawasan. Alih-alih hanya mengincar pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Teluk, serangan disebut diarahkan ke infrastruktur sipil kunci, yakni bandara Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.
Ketiga bandara tersebut merupakan hub penerbangan penting yang melayani hampir 200 juta penumpang per tahun dari Eropa dan Asia. Dampaknya dinilai dapat segera merembet ke konektivitas udara global.
Connie Rahakundini Bakrie, yang disebut baru tiba dari Jenewa sesaat sebelum serangan terjadi, menceritakan bahwa maskapai Emirates langsung membatalkan seluruh penerbangan. Langkah itu, menurutnya, membuat konektivitas udara global lumpuh dalam hitungan jam.
Di sisi lain, Mardigu Wowiek mengungkap informasi yang ia sebut berasal dari Garda Revolusi Iran terkait infrastruktur kritis lain di Selat Hormus. Ia menyatakan bahwa di bawah dasar laut Selat Hormus terdapat jaringan kabel fiber optik yang disebut menyambungkan 47 persen transaksi keuangan dunia.
Menurut Mardigu, Iran disebut siap memotong jaringan kabel tersebut apabila konflik terus meningkat. “Kalau itu digunting, game changing. Trump bisa digorok sama rakyatnya sendiri,” kata Mardigu dalam wawancara di kanal YouTube Helmy Yahya, Rabu (11/3/2026).
Ia menilai strategi semacam ini tidak semata mengandalkan kekuatan rudal dan drone, melainkan menyasar titik-titik yang dapat menghentikan fungsi sistem ekonomi global. Mardigu juga berpendapat langkah tersebut berpotensi menekan negara-negara Teluk yang selama ini mendukung Amerika Serikat agar mengubah sikap.

