Kementerian Ekologi dan Lingkungan (MEE) China pada 10 Juni 2025 mengumumkan aturan baru bertajuk “Announcement on Matters Related to Regulating the Import Management of Recycled Black Mass Raw Materials for Lithium-ion Batteries and Recycled Steel Raw Materials”. Melalui aturan ini, China menetapkan kode Harmonized System (HS) 3824999996 untuk bahan baku black mass daur ulang baterai lithium-ion. Kebijakan tersebut dijadwalkan berlaku mulai 1 Agustus 2025.
Dalam pengumuman itu, MEE menegaskan bahwa black mass daur ulang baterai lithium-ion yang memenuhi standar yang ditetapkan tidak dikategorikan sebagai limbah padat, sehingga dapat diimpor atau diekspor secara bebas. Namun, pengiriman tidak boleh mencampur black mass dengan kategori bahan daur ulang lainnya. Selain itu, satu formulir pemberitahuan pabean dilarang digunakan untuk mendeklarasikan lebih dari satu jenis bahan baku daur ulang.
Aturan impor/ekspor ini disebut berbeda dengan standar nasional “Standard for Recycled Black Mass for Lithium-ion Batteries” (GB/T 45203-2024) yang dirilis pada 31 Desember 2024 dan akan berlaku pada 1 Juli 2025. Standar tersebut—yang diterbitkan oleh State Administration for Market Regulation (SAMR) dan Standardization Administration of China (SAC)—membagi black mass daur ulang menjadi Tipe I dan Tipe II. Kategorinya mencakup black mass baterai NMC, black mass scrap elektroda NMC, black mass scrap elektroda LFP, dan black mass baterai LFP. Dengan adanya liberalisasi, jenis-jenis black mass yang memenuhi standar diperkirakan dapat diperdagangkan lintas negara dengan lebih leluasa.
Di sisi pasar, China saat ini disebut memiliki setidaknya 70% kapasitas daur ulang baterai lithium global, mencakup tahap pembongkaran/penghancuran serta pemrosesan hidrometalurgi. Kondisi pasokan yang ketat membuat daya tawar harga cenderung berada di hulu pada pihak penjual. Karena itu, setelah impor/ekspor black mass benar-benar dilonggarkan, China diperkirakan akan menjadi importir bersih black mass baterai lithium-ion.
Namun, dinamika harga dan kondisi operasi industri di dalam negeri menunjukkan tekanan yang masih besar. Disebutkan bahwa harga berbagai produk garam terus menurun, sementara pabrik penghancuran dan fasilitas hidrometalurgi beroperasi dalam kondisi rugi berkelanjutan. Sejumlah pabrik hidrometalurgi mengurangi pembelian dari pihak eksternal dan menjalankan operasi pada kapasitas sebagian.
Per 16 Juni 2025, parameter harga dan koefisien yang dicatat antara lain: black mass scrap elektroda NMC dengan koefisien Ni+Co 73–75% dan koefisien Li 70–73%; black mass baterai NMC dengan Ni+Co payable 70–72% dan Li payable 68–70%; black mass scrap elektroda LFP dengan harga per 1% lithium sebesar 2.200–2.350 yuan; serta black mass baterai LFP dengan harga per 1% lithium sebesar 2.000–2.150 yuan.
Di luar China, Jepang dan Korea Selatan juga memiliki lini pembongkaran/penghancuran serta hidrometalurgi, tetapi skala industri dibatasi oleh ketersediaan scrap produksi dan baterai akhir masa pakai di pasar domestik. Untuk black mass NMC, penetapan harga umumnya menggunakan sistem koefisien dan banyak diselesaikan dengan mengacu pada harga internasional nikel dan kobalt.
Sementara itu, Eropa dan Amerika Utara terutama menghasilkan scrap NMC, NMC rendah kobalt, serta sebagian scrap baterai konsumen. Wilayah ini memiliki sebagian kapasitas pembongkaran/penghancuran dan proyek hidrometalurgi yang masih berada pada tahap pilot atau laboratorium. Di Eropa, perubahan kebijakan juga memengaruhi arus perdagangan: pada Oktober 2024, Komisi Eropa merevisi daftar limbah yang berada dalam kontrol khusus dan mengklasifikasikan black mass serta baterai limbah alkali sebagai limbah berbahaya. Setelah revisi tersebut, produk seperti black mass baterai lithium-ion dan baterai lithium-ion bekas akan dilarang diekspor ke negara non-OECD, termasuk Asia Tenggara dan China.
Sebelumnya, sebagian black mass dari Eropa banyak dikirim ke Jepang, Korea Selatan, atau Asia Tenggara untuk pra-perlakuan sebelum diperdagangkan. Di Asia Tenggara, perdagangan black mass NMC umumnya menggunakan koefisien berbasis harga internasional nikel dan kobalt, meski ada perusahaan yang juga merujuk pada harga platform karbonat litium domestik China.
Setelah liberalisasi resmi, Amerika Serikat dan Asia Tenggara diperkirakan menjadi eksportir utama black mass NMC. Sistem harga untuk NMC dinilai lebih matang karena kandungan tiga logam bernilai, dominasi kendaraan akhir masa pakai berbasis NMC di pasar luar negeri, serta kondisi harga bijih litium yang mendekati titik biaya rendah. Di saat yang sama, harga karbonat litium yang rendah secara persisten membuat daur ulang black mass LFP dinilai belum ekonomis dalam jangka pendek, sehingga sistem harga LFP di luar negeri dianggap kurang berkembang dibanding NMC.
Meski demikian, sejumlah tantangan teknis dan ekonomi masih menonjol. Standar black mass daur ulang menetapkan batas kandungan fluorida larut air untuk dua kategori, yakni ≤0,1% dan ≤0,4%. Fluorida terutama berasal dari LiPF6 (lithium hexafluorophosphate), yakni solut dalam elektrolit baterai. Ion fluorida disebut mudah mengkorosi peralatan, menurunkan tingkat pemulihan garam, serta menimbulkan polusi lingkungan yang berat. Di luar negeri, pemrosesan hidrometalurgi baterai limbah berkembang lebih lambat antara lain karena kesulitan menangani air limbah dan gas buang yang mengandung fluorida. Persyaratan kandungan fluorida dalam standar baru dinilai relatif tinggi sehingga black mass yang diproses di luar negeri berpotensi sulit sepenuhnya memenuhi standar impor/ekspor.
Dari sisi industri dalam negeri, meskipun impor black mass dapat membantu meredakan ketatnya pasokan bahan baku, kondisi kapasitas daur ulang China disebut mengalami kelebihan pasokan yang serius di berbagai tahap dan berlangsung dalam tekanan rugi. Karena itu, masuknya impor tidak serta-merta memulihkan profitabilitas pabrik penghancuran maupun hidrometalurgi. Pemulihan keuntungan dinilai baru berpeluang terjadi seiring rasionalisasi kapasitas dan datangnya gelombang baterai akhir masa pakai dalam skala besar yang secara bertahap menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan.
Di tengah perubahan kebijakan ini, perhatian pelaku hidrometalurgi di China terhadap perdagangan black mass dari luar negeri disebut meningkat. Setelah adanya draf konsultasi pada Maret 2025 yang mengindikasikan potensi pelonggaran pada paruh kedua tahun ini, sejumlah perusahaan daur ulang hidrometalurgi dilaporkan memperkuat fokus pada mitra pedagang black mass di luar negeri dan menyatakan minat bekerja sama untuk mengimpor black mass setelah liberalisasi impor/ekspor resmi diberlakukan.

