BERITA TERKINI
Dampak Perang AS-Israel dan Iran Mengguncang Ekonomi Global: Penerbangan Tersendat, Pasokan Logam Terganggu

Dampak Perang AS-Israel dan Iran Mengguncang Ekonomi Global: Penerbangan Tersendat, Pasokan Logam Terganggu

TEHERAN — Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang berujung pada perang dilaporkan memicu dampak berkepanjangan bagi perekonomian dunia. Gangguan tersebut mencakup lonjakan dan ketidakpastian harga energi, tekanan pada pasokan bahan baku kritis, serta tersendatnya jalur perdagangan internasional yang penting bagi distribusi pangan dan komponen otomotif.

Berdasarkan laporan Reuters pada Kamis (12/3/2026), dampak perang ini mulai terasa nyata di sejumlah sektor, termasuk penerbangan global dan industri logam.

Penerbangan global terguncang

Sektor penerbangan internasional menghadapi krisis yang disebut sebagai yang terburuk sejak masa pandemi. Penutupan sebagian besar ruang udara di Timur Tengah—termasuk wilayah udara Qatar akibat ancaman rudal dan drone—memaksa pembatalan dan pengalihan rute puluhan ribu penerbangan.

Bandara Internasional Dubai, salah satu hub penerbangan tersibuk di dunia, dilaporkan mengalami gangguan operasional berat. Kondisi ini berdampak langsung pada konektivitas penerbangan jarak jauh secara global.

Situasi di kawasan Teluk juga memunculkan berbagai dampak turunan. Sebagian pelancong yang terjebak dilaporkan menyewa jet pribadi, sementara lainnya memilih perjalanan darat menggunakan taksi melintasi gurun menuju Riyadh, Arab Saudi, untuk mencari penerbangan pulang.

Di sisi biaya, ketegangan tersebut turut mendorong harga bahan bakar avtur melonjak hingga dua kali lipat. Sejumlah maskapai, termasuk Wizz Air, Lufthansa, dan Ryanair, mulai menaikkan harga tiket serta menerapkan biaya tambahan bahan bakar.

Pasokan aluminium dan nikel ikut terganggu

Tekanan juga dirasakan industri manufaktur berat. Produsen aluminium asal Qatar, Qatalum, dilaporkan mulai menghentikan operasional. Sementara itu, Aluminium Bahrain menyatakan status force majeure karena tidak dapat mengirimkan logam melalui Selat Hormuz.

Wilayah Teluk disebut menyumbang sekitar 8 persen dari pasokan aluminium global, sehingga gangguan di jalur pengiriman berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga di pasar internasional.

Dampak krisis turut merembet ke Asia Tenggara. Produsen nikel di Indonesia yang bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 75 persen pasokan sulfur mereka dilaporkan terancam memangkas produksi akibat terganggunya jalur pelayaran di kawasan Teluk.