BERITA TERKINI
Dinamika Global Kuartal I 2022: Omicron, Perang Rusia-Ukraina, dan Tantangan Pemulihan Ekonomi Indonesia

Dinamika Global Kuartal I 2022: Omicron, Perang Rusia-Ukraina, dan Tantangan Pemulihan Ekonomi Indonesia

Kinerja pemulihan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2022 dihadapkan pada kombinasi tantangan domestik dan global. Di dalam negeri, gelombang varian Omicron sempat memicu pengetatan kebijakan terkait pandemi di sejumlah daerah, terutama pusat-pusat perekonomian. Dari sisi eksternal, eskalasi geopolitik Rusia–Ukraina dinilai menambah tekanan melalui kenaikan harga energi dan pangan dunia serta potensi lonjakan inflasi global.

Dampak Omicron dinilai lebih ringan

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Abdurohman (Rahman), menyebut dampak gelombang Omicron tidak seberat yang semula dikhawatirkan. Menurutnya, gejala yang cenderung lebih ringan membuat fasilitas kesehatan tidak mengalami kepadatan berlebihan. Ia juga menilai dampak ekonomi lebih terbatas, seiring mobilitas masyarakat yang mulai meningkat.

Tekanan geopolitik Rusia–Ukraina dan efek ke ekonomi

Ekonom sekaligus Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri, menilai kuartal pertama 2022 turut diwarnai perubahan geopolitik yang cepat dan signifikan akibat perang Rusia–Ukraina. Kondisi ini, kata Yose, berpotensi memengaruhi perekonomian nasional.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid, juga mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang memicu peningkatan harga pangan dan energi dunia, serta berpotensi mendorong inflasi global yang dapat menekan industri pangan, energi, dan sektor keuangan.

Risiko dan peluang dari kenaikan harga komoditas

Arsjad menilai ketegangan Rusia–Ukraina membawa pengaruh politik dan ekonomi yang mendorong perlunya perhitungan ulang strategi kebijakan ekonomi dan dunia usaha untuk program pemulihan 2022. Pelaku usaha, menurutnya, perlu mencermati dampaknya terhadap perekonomian, dunia usaha, dan bisnis perusahaan, terutama pada sektor energi, pangan, dan perdagangan.

Ia menyoroti posisi Rusia sebagai salah satu pemasok energi terbesar dunia, dengan pasokan gas alam 16% dan minyak 11%. Sementara itu, Ukraina disebut sebagai pemasok gandum terbesar bagi Indonesia. Dalam jangka pendek, kenaikan harga energi dan pangan global dinilai dapat memicu inflasi.

Di sisi lain, Arsjad menyebut terdapat implikasi positif berupa potensi peningkatan pendapatan ekspor Indonesia akibat kenaikan harga energi dan komoditas pangan global. Namun, ia mengingatkan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, inflasi global dapat menghambat pemulihan ekonomi. Dampaknya, menurut Arsjad, sangat dipengaruhi oleh lamanya konflik berlangsung dan risikonya terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang baru mulai pulih.

Yose juga menyampaikan bahwa tensi geopolitik dapat memberi keuntungan bagi Indonesia, terutama dari sisi perpajakan, melalui windfall profit akibat kenaikan harga komoditas. Meski demikian, ia menilai lebih banyak sektor yang menghadapi dampak kurang baik, seperti transportasi yang terdampak kenaikan harga energi, serta sektor makanan akibat pasokan yang semakin ketat.

Menurut Yose, dampak bagi Indonesia cenderung bersifat temporer karena penyesuaian pasokan di tingkat global dapat terjadi, misalnya ketika harga minyak naik lalu muncul alternatif suplai dari negara lain yang meningkatkan produksi. Dengan demikian, harga minyak dapat turun dari titik tertingginya meski masih berada pada level tinggi.

Tiga tantangan pemulihan ekonomi 2022

Yose mengidentifikasi tiga tantangan utama yang membayangi pemulihan ekonomi Indonesia pada 2022.

  • Kerentanan Covid-19. Yose menilai pandemi mulai memasuki fase endemik, tetapi tetap riskan. Ia menyoroti menurunnya antusiasme masyarakat untuk vaksinasi, padahal vaksin disebut sebagai faktor utama dalam penanganan pandemi.

  • Adaptasi dan transformasi, terutama digital. Yose menilai transformasi digital dalam dua tahun terakhir berlangsung pesat, tetapi masih ada prasyarat yang belum memadai, seperti infrastruktur, keterampilan dan talenta, serta literasi pengguna. Ia juga menilai kerangka kebijakan perlu disesuaikan karena ekonomi digital memiliki karakter berbeda dibanding ekonomi konvensional.

  • Perubahan aspirasi global terkait lingkungan dan iklim. Yose menilai percepatan perhatian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim mendorong Indonesia untuk beradaptasi.

Rahman menambahkan bahwa pandemi turut mengakselerasi perubahan, termasuk digitalisasi. Ia menyebut transaksi digital Indonesia di kawasan ASEAN termasuk yang paling kuat dan masyarakat dinilai cepat beradaptasi. Namun, ia menekankan pemerintah perlu terus mendorong infrastruktur pendukung, termasuk investasi di bidang ICT.

Terkait isu lingkungan, Rahman mengatakan pemerintah mulai memasukkan agenda tersebut dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF). Ia menyebut komitmen pemerintah tercermin dalam berbagai kebijakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

Arah kebijakan yang disorot pelaku usaha dan ekonom

Arsjad menilai pemerintah perlu mendorong transformasi struktur ekonomi yang selama ini didominasi konsumsi rumah tangga, yang disebutnya mencapai 56% dari total PDB. Menurutnya, struktur tersebut perlu dialihkan secara bertahap ke sektor yang lebih produktif agar mendorong investasi dan ekspor. Ia juga menilai investasi diharapkan membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatkan kesejahteraan. Dalam konteks itu, ia menyebut implementasi UU Cipta Kerja dan UU Perpajakan sebagai upaya meningkatkan daya tarik investasi dan iklim usaha demi daya saing.

Dalam jangka pendek, Arsjad menekankan pentingnya kebijakan menjaga stabilitas harga, terutama pangan dan energi, serta kesiapan transformasi digital dan inovasi.

Sementara itu, Yose menyoroti tingkat keterlibatan Indonesia dalam perekonomian global yang dinilainya masih rendah. Ia menyebut rasio FDI terhadap PDB Indonesia jarang berada di atas 2%, sementara Thailand disebut biasanya di atas 3,5% dan Vietnam mencapai 6%. Yose menilai kondisi itu bisa terkait dengan kebijakan Indonesia yang dinilai kurang terbuka dibanding negara lain di kawasan.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022

Dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022, Yose memperkirakan Indonesia berpeluang tumbuh 5–5,5% dengan asumsi tidak ada gelombang baru Covid-19. Ia menilai sektor eksternal terbantu oleh kenaikan permintaan komoditas Indonesia, tetapi menekankan proyeksi tersebut bergantung pada penanganan isu, terutama kesehatan.

Arsjad menyatakan optimisme target pertumbuhan 4,7–5,5% dapat tercapai, dengan melihat geliat dunia usaha dan konsumsi masyarakat sejak akhir 2021 hingga Februari 2022. Ia merujuk sejumlah indikator, antara lain Indeks Harga Konsumen (IHK) 108,24, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 113,1, Indeks Perdagangan Besar 108,46, serta Indeks Penjualan Ritel 202,8.

Arsjad juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah melonggarkan APBN melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk memperkuat sisi penawaran dan permintaan. Menurutnya, kebijakan tersebut membantu koordinasi sumber daya kesehatan dan bantuan sosial dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam menghadapi pandemi.