Pada perdagangan Senin (9/3), dolar Amerika Serikat menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama. Pada saat yang sama, bursa saham Asia melemah, dengan indeks saham kawasan tersebut turun 1,8% pada pembukaan perdagangan. Kontrak berjangka indeks Nasdaq 100 juga tercatat anjlok hingga 2%.
Di pasar komoditas, emas dan perak melemah di tengah kekhawatiran inflasi. Kondisi ini dinilai meningkatkan peluang Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan menaikkannya kembali.
Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2011.
Tekanan jual meluas di berbagai kawasan dan kelas aset sepanjang pekan lalu. Eskalasi geopolitik menambah beban bagi pasar yang sebelumnya sudah tertekan oleh disrupsi kecerdasan buatan (AI) serta kekhawatiran mengenai potensi keretakan di pasar kredit.
Krisis yang kian memanas membuat investor berada di persimpangan antara risiko inflasi baru akibat lonjakan harga minyak dan sinyal perlambatan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat.
Dave Mazza, CEO Roundhill Financial, mengatakan gangguan yang terjadi tidak lagi sebatas risiko penutupan Selat Hormuz. Menurutnya, gangguan pasokan telah merambah lebih dalam ke kawasan, dan pergeseran ini mendorong investor yang sudah cemas untuk menarik dana dari aset berisiko.

