BERITA TERKINI
Empat Cara Menghindari Jebakan Pinjol dan Paylater Menjelang Lebaran

Empat Cara Menghindari Jebakan Pinjol dan Paylater Menjelang Lebaran

Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat menjelang Lebaran, mulai dari belanja baju baru, menyiapkan parcel atau hampers, hingga biaya mudik. Di tengah tekanan pengeluaran tersebut, sebagian orang menjadikan pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater sebagai solusi cepat untuk menutup kebutuhan.

Namun, kemudahan akses pinjaman digital menyimpan risiko bila tidak disertai perencanaan keuangan yang matang. Penggunaan pinjol dan paylater berpotensi menjerat utang konsumtif yang membebani keuangan setelah Lebaran.

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari jebakan pinjol dan paylater saat kebutuhan Lebaran meningkat.

1. Susun anggaran khusus Lebaran sejak jauh hari

Perencana keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, menilai pengeluaran Lebaran sejatinya rutin terjadi setiap tahun, tetapi kerap menimbulkan defisit akibat salah perhitungan. Tanpa anggaran, pengeluaran hari raya cenderung dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan.

Budi menyarankan perencanaan keuangan, terutama terkait manajemen arus kas. Ia menilai pengeluaran tahunan bernilai besar sebaiknya direncanakan melalui rekening terpisah, seperti kebutuhan hari raya, pajak kendaraan, liburan, dan lainnya.

Menurutnya, dana tersebut dapat dikumpulkan dengan cara dicicil setiap bulan dari penghasilan rutin. Sebagai contoh, bila total kebutuhan hari raya Rp12 juta, maka idealnya menyisihkan Rp1 juta per bulan agar beban pengeluaran tidak menumpuk menjelang Lebaran. Selain itu, kebutuhan Lebaran juga dapat ditutupi sebagian atau keseluruhan dengan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi yang menerimanya.

2. Catat pola pengeluaran Lebaran

Budi mengingatkan banyak orang kerap tidak menyadari betapa banyaknya pos pengeluaran saat Lebaran. Pengeluaran tersebut dapat mencakup zakat, infak dan sedekah, biaya mudik, bingkisan serta amplop THR untuk kerabat, hingga pembelian baju baru untuk keluarga.

Ketika dana yang tersedia tidak memadai, sebagian orang memilih cara paling mudah, yakni pinjol dan paylater, meski biayanya tinggi. Karena itu, Budi menekankan pentingnya perencanaan anggaran, pencatatan, serta disiplin menabung agar keluarga tidak perlu berutang untuk kebutuhan hari raya yang kemudian membebani keuangan pada bulan-bulan berikutnya melalui cicilan.

3. Sesuaikan kebutuhan Lebaran dengan kemampuan finansial

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, menyarankan agar belanja kebutuhan Lebaran dilakukan sesuai dengan anggaran yang dimiliki. Termasuk pula saat memutuskan apakah akan pulang kampung atau tidak, terutama jika dana terbatas.

4. Hindari gaya hidup pamer saat Lebaran

Andy juga menekankan pentingnya tidak terjebak gaya hidup. Ia mengingatkan agar Lebaran dinormalisasi sebagai momen silaturahmi dan saling memaafkan, bukan ajang pamer harta.

Menurutnya, ketika Lebaran berubah menjadi ajang pamer, hal itu dapat mendorong seseorang menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu penting dan tidak benar-benar diperlukan, seperti gawai baru dan pakaian baru.