Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal Maret 2026 seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Minyak jenis Brent naik hingga sekitar US$108 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak di kisaran yang sama, didorong kekhawatiran bahwa pasokan dari kawasan Timur Tengah dapat terganggu.
Kenaikan harga turut dipicu gangguan produksi dan distribusi minyak di kawasan Teluk. Sejumlah negara produsen, termasuk Iran dan Kuwait, dilaporkan mengurangi produksi akibat kesulitan ekspor serta meningkatnya risiko keamanan di jalur pengiriman energi.
Situasi semakin memanas seiring munculnya ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia setiap hari. Gangguan terhadap jalur tersebut membuat banyak kapal tanker menunda perjalanan, yang pada akhirnya memperketat pasokan di pasar global.
Ketegangan juga berdampak pada fasilitas energi di kawasan. Beberapa serangan terhadap infrastruktur energi dilaporkan memperburuk situasi, termasuk serangan drone terhadap sebuah kilang minyak besar di Arab Saudi yang sempat menghentikan operasi sementara dan ikut memicu lonjakan harga minyak global.

