Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel disebut tidak hanya berdampak pada konflik militer, tetapi juga mengguncang perekonomian global. Situasi ini turut memicu kekhawatiran pasar energi di tengah eskalasi yang terus berkembang.
Dalam perkembangan terbaru, Iran mengancam harga minyak dapat melonjak hingga 200 dolar AS per barel apabila konflik terus meluas. Ancaman tersebut menambah sorotan terhadap risiko kenaikan harga energi dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Isu ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas tekanan melalui harga minyak: apakah potensi lonjakan harga dapat menjadi alat untuk menahan eskalasi konflik, atau justru kenaikan harga energi akan memperluas dampak perang ke sektor ekonomi yang lebih luas.
Untuk membahas dampak dan implikasinya, KompasTV menghadirkan dua narasumber, yakni Eisha Rachbini selaku Direktur Utama Indef dan Aisha Kusumasomantri selaku Direktur Hubungan Eksternal Indo Pacific Strategic Intelligence.

