BERITA TERKINI
ICMSS 2026 Bahas Ketahanan Pasar Modal Indonesia di Tengah Gejolak Ekonomi Global

ICMSS 2026 Bahas Ketahanan Pasar Modal Indonesia di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Ketidakpastian global masih membayangi pasar keuangan dunia, mulai dari pelemahan ekonomi, volatilitas pasar, hingga perubahan arah kebijakan moneter. Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri menilai pasar modal Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan gejolak yang terjadi secara global.

Isu ini menjadi sorotan dalam The 25th ICMSS International Capital Market Seminar yang digelar di Jakarta pada Rabu (5/2/2026). Kegiatan tersebut diposisikan sebagai wadah edukasi bagi investor muda sekaligus forum diskusi strategis mengenai posisi pasar modal Indonesia dalam dinamika ekonomi dunia.

Indonesia Capital Market Student Studies (ICMSS) mengusung nilai PROFGAN (Professionalism, Family, and Elegance) dengan tiga agenda utama, yakni Investment Training, International Capital Market Seminar, dan Equity Research Conference. Tahun ini, seminar mengangkat tema “The Diverged Trajectory: Reinstating Sovereignty Through Global Disparity”, yang menyoroti perbedaan arah pemulihan ekonomi antarnegara.

Rangkaian International Capital Market Seminar Day 1 terbagi dalam tiga sesi utama yang membahas ketahanan ekonomi nasional, dinamika pasar saham, serta perubahan lanskap investasi global.

Proyeksi kripto dan dinamika saham

Dari sisi pasar kripto, Vice President of Business Development Indodax James Eugene memproyeksikan jumlah akun kripto di Indonesia dapat tumbuh hingga sekitar 20 juta akun pada periode 2025–2026. Namun, ia menilai pelemahan makroekonomi global pada paruh pertama tahun masih menjadi tekanan besar bagi pasar aset digital.

Menurutnya, ketidakpastian global membuat potensi rebound pasar kripto belum bisa dipastikan, meski minat investor domestik tetap tumbuh. Ia juga menekankan tantangan regulasi global yang semakin ketat mendorong pelaku industri di Indonesia untuk beradaptasi melalui inovasi dan penguatan produk.

Sementara itu, Co-Founder Revalue Academy, Faza Verdana, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dipengaruhi faktor teknikal, bukan persoalan struktural ekonomi. Ia menyebut penyesuaian regulasi MSCI sebagai salah satu faktor utama yang menekan pasar dalam jangka pendek.

Faza juga memandang kondisi tersebut sebagai peluang agar pasar saham Indonesia dapat dinilai lebih positif oleh investor global, terutama bila stabilitas makro tetap terjaga di tengah gejolak internasional.

Danantara dan ketahanan struktur pasar

Sesi pertama seminar mengangkat tema “From Vision to Value: How Danantara Drives Indonesia’s Growth Strategy” dengan menghadirkan Randa Silvano Bangun (Senior Vice President, Investments at Danantara Indonesia), Fidel Ramos Sinaga, dan Harry Aginta. Diskusi menyoroti peran Danantara sebagai sovereign wealth fund dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

Pembiayaan proyek strategis, reformasi struktural, serta tata kelola yang berkelanjutan dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing pasar modal nasional.

Sesi kedua bertajuk “Broadening Horizons: Navigating Resilience in Indonesia’s Equity Market” menghadirkan Andre Simangunsong, Mark Bruny, dan Genta Wira Anjalu. Diskusi menyoroti dominasi saham berkapitalisasi besar di pasar Indonesia serta kebutuhan strategi kebijakan untuk mendorong pasar yang lebih inklusif dan seimbang dibandingkan tren global.

Literasi investor dan manajemen risiko

Sesi ketiga bertema “Redefining Value in the New Investment Landscape” menghadirkan Jeffry Jouw, Emir Parengkuan, Faza Verdhana, dan James Eugene. Para pembicara menekankan pentingnya literasi keuangan, manajemen risiko, serta kesiapan investor menghadapi volatilitas pasar global.

Dalam konferensi pers, President of the 25th ICMSS, Falito Villienuve Tandra, menyatakan ICMSS menjadi ruang pertukaran gagasan strategis antara akademisi, praktisi, dan pelaku industri. Melalui diskusi lintas sektor, forum ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi agar pasar modal Indonesia tetap kompetitif di tengah tekanan global.

Rangkaian kegiatan ICMSS dijadwalkan berlanjut pada hari kedua, serta Equity Research Conference pada 9–11 Februari 2026.