Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada awal perdagangan Senin (9/3/2026). Tekanan jual yang kuat membuat indeks acuan pasar modal Indonesia turun hingga 5,05% ke level 7.202,56 sesaat setelah transaksi dimulai.
Pelemahan ini terutama dikaitkan dengan eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar global beralih ke aset komoditas dan mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk ekuitas di pasar berkembang seperti Indonesia.
Dari sisi makroekonomi, pasar juga mencermati proyeksi data ekonomi Amerika Serikat. Konsensus memperkirakan inflasi AS, baik secara umum maupun indikator Personal Consumption Expenditures (PCE), berpotensi kembali menunjukkan tren kenaikan pada periode mendatang. Ekspektasi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan pada level restriktif lebih lama.
Situasi itu turut mendorong penguatan imbal hasil obligasi AS dan meningkatkan potensi arus modal asing keluar (capital outflow) dari bursa domestik.
Penurunan IHSG hingga 5,05% terjadi dalam sekitar 25 menit setelah pembukaan. Mengacu pada ketentuan yang berlaku, penghentian sementara perdagangan (trading halt) akan dilakukan apabila IHSG menyentuh penurunan 8% di tengah sesi perdagangan. Mekanisme ini bertujuan memberi waktu bagi pelaku pasar mencerna informasi fundamental secara lebih rasional dan meredam tekanan jual berkelanjutan.
Koreksi indeks juga menyeret banyak saham ke zona merah. Pada awal sesi, sejumlah saham tercatat turun hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) dan masuk jajaran penurunan terdalam (top losers).
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan data makroekonomi terbaru serta dinamika geopolitik global, yang saat ini menjadi katalis utama pergerakan pasar.

