Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,47% ke level 8.226,20 pada perdagangan Jumat (13/2/2026) pukul 09.00 WIB, dibandingkan posisi sebelumnya di 8.265,35. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi profit taking serta arus keluar (outflow) investor asing.
Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 867,13 juta saham berpindah tangan dengan frekuensi 79 ribu kali transaksi dan nilai transaksi mencapai Rp448,42 miliar. Pada awal perdagangan, 217 saham tercatat turun, 184 saham menguat, dan 245 saham tidak berubah.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menilai IHSG secara teknikal diperkirakan bergerak melemah dalam rentang 8.150–8.300. Ia menyebut pergerakan IHSG dipengaruhi sentimen domestik, termasuk aksi profit taking yang sejalan dengan outflow investor asing di seluruh pasar ekuitas senilai Rp1,48 triliun pada 13 Februari. Secara year-to-date, total outflow tercatat mencapai Rp14,46 triliun.
Sentimen lain datang dari agenda rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sejumlah emiten. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dijadwalkan menggelar RUPST pada 12 Maret 2025 dengan agenda persetujuan penggunaan laba bersih, pembagian dividen, serta persetujuan pembelian kembali (buyback) saham hingga Rp5 triliun dalam 12 bulan setelah RUPST.
Dari luar negeri, tekanan juga datang setelah indeks utama Wall Street kompak terkoreksi pada 12 Februari. Indeks Nasdaq turun 2,04% dan S&P 500 melemah 1,57% seiring perhatian pelaku pasar pada rilis data inflasi pekan ini yang berpotensi masih di atas target, serta tercermin dari data tenaga kerja.
Ketidakpastian kebijakan suku bunga yang berpotensi tetap tinggi turut disebut menekan harga emas yang terkoreksi ke level USD4.921 per ons pada 12 Februari. Sementara itu, bursa Asia Pasifik pada perdagangan intraday 13 Februari juga dibuka melemah mengikuti arah Wall Street, dengan Nikkei 225 turun 0,82% dan S&P/ASX 200 melemah 1,22%.

