Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah, seiring tekanan yang juga terjadi di bursa saham kawasan Asia di tengah lonjakan harga minyak global.
IHSG dibuka turun 211,38 poin atau 2,79 persen ke posisi 7.374,31. Sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan melemah 22,31 poin atau 2,87 persen ke 753,74.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai volatilitas pasar masih berpotensi tinggi sepanjang pekan ini. Ia mengingatkan adanya risiko konsolidasi lanjutan IHSG ke area 7.335, serta menyarankan investor untuk memperbanyak sikap menunggu sambil mencermati sentimen global.
Tekanan pasar muncul di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang meluas ke berbagai wilayah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman dan likuid. Perpindahan arus aset itu turut menguatkan dolar AS, sementara saham dan aset berisiko berada dalam tekanan.
Ketidakpastian juga meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi yang tewas Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Supreme Leader baru. Penunjukan figur yang disebut dekat dengan kelompok hardliner dinilai memperkuat persepsi bahwa Iran kemungkinan tidak akan segera melunak dalam konflik, sehingga risiko eskalasi geopolitik di Timur Tengah meningkat.
Di pasar komoditas, harga minyak melonjak tajam seiring eskalasi konflik dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak Crude Oil WTI tercatat naik 20,81 persen ke level 109,82 dolar AS per barel, sedangkan Brent Oil menguat 18,17 persen ke 109,53 dolar AS per barel.
Liza menilai lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan harga bahan bakar serta biaya produksi. Ia juga menyebut beberapa produsen energi Timur Tengah mulai mengurangi produksi akibat gangguan rantai pasokan.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar turut mencermati dinamika hubungan dagang AS dan China yang dinilai masih rapuh menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret 2026. Pertemuan tersebut diperkirakan lebih berfokus menjaga stabilitas hubungan ekonomi ketimbang melakukan perubahan besar dalam hubungan bisnis dan investasi.
AS disebut ingin memastikan China tetap memenuhi komitmen dalam kesepakatan perdagangan, termasuk pembelian produk pertanian AS, pesawat Boeing, serta pasokan rare earth. Salah satu potensi kesepakatan yang dibahas adalah rencana pembelian sekitar 500 pesawat narrow-body Boeing oleh China.
Untuk pekan ini, Liza menyampaikan perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan data inflasi AS. Dari sisi makro, fokus mengarah pada rilis Consumer Price Index (CPI) AS Februari 2026. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, kekhawatiran dapat meningkat bahwa lonjakan harga energi akan menunda siklus pemangkasan suku bunga The Fed. Saat ini probabilitas pemangkasan sekitar 25 basis poin pada Juni 2026 diperkirakan berada di kisaran 45 persen.
Dari dalam negeri, pemerintah menyusun simulasi dampak lonjakan harga minyak terhadap kondisi fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan apabila harga minyak rata-rata mencapai 92 dolar AS per barel, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6–3,7 persen dari PDB apabila tidak ada kebijakan penyesuaian. Pemerintah saat ini berupaya menjaga defisit tetap di bawah batas 3 persen dari PDB sesuai kerangka disiplin fiskal.
Di sisi geopolitik, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia akan menarik diri dari inisiatif “Board of Peace” yang diusulkan Presiden AS Donald Trump jika tidak memberikan manfaat bagi Palestina maupun kepentingan nasional Indonesia. Pemerintah juga menunda pembahasan lebih lanjut mengenai pembentukan pasukan stabilisasi Gaza yang didukung PBB hingga situasi konflik mereda.
Sentimen global turut tercermin pada pergerakan bursa di berbagai kawasan. Pada perdagangan Jumat (6/3) pekan lalu, bursa Eropa kompak melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 1,09 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,24 persen, DAX Jerman turun 0,94 persen, dan CAC Prancis melemah 0,65 persen.
Di AS, Wall Street juga ditutup melemah pada Jumat (6/3), dengan Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke 47.501,55, S&P 500 melemah 1,33 persen ke 6.740,02, dan Nasdaq Composite turun 1,59 persen ke 22.387,68.
Pada perdagangan pagi ini di Asia, sejumlah indeks utama bergerak turun, di antaranya Nikkei melemah 4.185,60 poin atau 7,53 persen ke 51.435,00, Shanghai turun 57,98 poin atau 1,41 persen ke 4.066,70, Hang Seng melemah 797,78 poin atau 3,10 persen ke 24.959,26, serta Strait Times turun 148,93 poin atau 3,07 persen ke 4.699,68.

