JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (6/3) seiring meningkatnya sikap risk-off investor global di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Ketegangan geopolitik tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham, sambil menunggu kejelasan arah situasi.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup turun 124,85 poin atau 1,62 persen ke level 7.585,68. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan melemah 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04.
Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan investor cenderung bersikap defensif dengan menghindari instrumen berisiko tinggi. “Investor cenderung risk-off dan defensif. Investor menghindari instrumen berisiko tinggi dengan melikuidasi saham big caps dan merotasi ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta.
Menurut Wafi, eskalasi konflik di Timur Tengah menambah ketidakpastian ekonomi global, termasuk potensi lonjakan harga minyak dan perubahan arah kebijakan suku bunga global. Kondisi ini turut meningkatkan volatilitas pasar, membuat pergerakan IHSG rentan terkoreksi dalam jangka pendek, terutama ketika disertai arus keluar dana asing.
Ia juga menyoroti tingginya yield US Treasury yang dipengaruhi ekspektasi suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan bertahan tinggi. Dari sisi global, pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat, antara lain inflasi (CPI) dan tenaga kerja (NFP), yang dinilai akan menjadi acuan untuk membaca arah kebijakan The Fed, bersamaan dengan perkembangan resolusi atau eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dari dalam negeri, Wafi menyampaikan pemangkasan outlook kredit Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings memicu depresiasi nilai tukar rupiah dan arus keluar modal asing yang masif. Pasar juga menanti rilis data cadangan devisa, respons kebijakan Bank Indonesia—termasuk potensi kenaikan BI Rate untuk menstabilkan rupiah—serta tanda-tanda meredanya tekanan jual bersih (net sell) asing.
Dalam perdagangan hari itu, IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks tetap berada di teritori negatif sampai akhir perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor mencatat pelemahan. Sektor industri menjadi yang terdalam turun 3,67 persen, disusul sektor barang konsumen non primer turun 3,54 persen, serta sektor energi turun 2,80 persen.
Jika ketegangan geopolitik berlanjut, sentimen risk-off dinilai masih berpotensi membayangi pasar keuangan. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar cenderung menahan likuiditas atau mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman sambil menunggu arah perkembangan berikutnya.

