Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 133,48 poin atau 1,76% ke level 7.710,54 pada perdagangan Kamis (5/3/2026). Penguatan terjadi dengan 625 saham naik, 134 saham turun, dan 199 saham tidak bergerak.
Meski menguat, aktivitas perdagangan tercatat lebih sepi dibandingkan sesi sebelumnya. Nilai transaksi pada hari ini sebesar Rp 17,43 triliun, turun dari Rp 29,59 triliun pada perdagangan Rabu. Volume perdagangan mencapai 31,17 miliar saham dengan 2,01 juta kali transaksi, juga lebih rendah dibandingkan catatan sehari sebelumnya.
Menurut data Refinitiv, penguatan IHSG terutama ditopang saham perbankan. Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 21,32 poin indeks, disusul Bank Mandiri (BMRI) 11,26 poin dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 9,43 poin. Sejalan dengan itu, sektor finansial tercatat naik 2,34%.
Dari kawasan, bursa Asia turut menguat dan dipimpin indeks Kospi Korea Selatan yang ditutup naik 9,63% setelah sempat menyentuh kenaikan 12%. Saham berkapitalisasi besar seperti SK Hynix dan Samsung dilaporkan naik lebih dari 10% dan 11%.
Sehari sebelumnya, Kospi ditutup turun 12%. Menyikapi kondisi tersebut, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Kamis menyerukan pemerintah untuk segera meluncurkan program senilai 100 triliun won atau setara US$68 miliar dan Rp 1.149,06 triliun untuk menstabilkan pasar keuangan. Rencana itu dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang dinilai dapat mengganggu kepercayaan pasar.
Mengutip The Korean Times, dalam pidato pembukaan rapat Kabinet, Lee memperingatkan bahwa krisis yang memburuk di Timur Tengah memperburuk lingkungan ekonomi dan keamanan global. Ia menyoroti meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan, sementara ketidakstabilan pasokan energi dan kondisi perdagangan berpotensi menimbulkan kesulitan yang lebih luas di perekonomian.
Di Asia-Pasifik, pasar juga bergerak naik. Nikkei Jepang menguat 1,9% setelah sebelumnya turun 3%. Indeks STI Singapura naik 0,53% dan HSI Hong Kong naik 0,28%.
Untuk pasar domestik, tekanan pada perdagangan sebelumnya tidak hanya dipicu eskalasi geopolitik, tetapi juga pengumuman Fitch Ratings yang memangkas outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat jangka panjang valuta asing tetap dipertahankan pada level BBB atau investment grade. Keputusan tersebut mencerminkan peningkatan risiko dalam horizon menengah, sementara status kelayakan investasi Indonesia dinilai belum berubah.
Fitch menilai revisi outlook dipicu meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan, terutama di tengah sentralisasi pengambilan keputusan.

